Cerpen

Taipei, Hujan dan Mr. Han

)oo(

 

“Assalamualaikum, dengan Jay ada yang bisa saya bantu.” Suara diseberang sana menyapaku ramah. Membuatku begitu saja menelan kembali kalimat pembuka yang akan terucap. Aku kalah cepat.

“Wa’alaikumsalam, maaf mas Jay. Aku mau tanya tentang kegiatan yang akan kalian selenggarakan minggu depan. Kalau boleh tahu, pesertanya apa harus dari kalangan mahasiswa?” tentu saja kalimatku kali ini lancar, sebab aku sudah menuliskannya lebih dulu dalam jurnal. Dan seseorang bernama Jay diseberang sana dengan sabar menantiku menyelesaikannya sampai akhir sebelum memberikan jawaban.

“Maaf, dan kalau boleh saya tahu, dengan mba siapa saya bicara?” tanyanya kemudian.

“Widya, dan saya bukan mahasiswa. Tapi saya ingin sekali mengikuti acara tersebut.” Jelasku meyakinkan. Dan kalau saja aku bisa melihat reaksi perubahan atas wajah seseorang bernama Jay itu, barangkali saat ini keningnya agak sedikit berkerut sambil memikirkan sesuatu. Bukan mahasiswa tapi ingin ikut kegiatan para mahasiswa. Whatever! Apapun yang dipikirkannya, semoga dia adalah sosok yang bijak sehingga bisa memberikan jawaban sesuai dengan yang aku harapkan.

“Oh, dengan senang hati mba Widya. Kegiatan ini memang terbuka untuk umum yang ingin menambah knowledge. Kami tunggu kedatangan mba.” Terdengar antusias sekali nada bicaranya. Dan aku yakin, ketika kami menutup pembicaraan, dia menyempatkan diri untuk melukiskan senyum.

)oo(

Hari minggu tinggal tiga hari lagi, tapi aku masih belum berani merengek untuk meminta izin pada majikan. Sementara layar dinding facebook-ku sedang ramai sekali membicarakan kegiatan itu. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang dalam setiap kesempatan menuliskan status yang berhubungan dengan tema yang akan didiskusikan, atau sekedar men-share poster ke teman-teman lainnya. Aku memang bukan termasuk orang yang berani berkomentar di status teman yang tidak begitu terlalu kukenal. Tapi aku selalu memasang mataku untuk informasi-informasi penting yang sekiranya bisa memperkaya wawasan pengetahuanku.

Jatah istirahat siang hari ini aku gunakan untuk searching tentang banyak hal. Mulai dari alamat tempat kegiatan, apa itu IC3T, KMIT, termasuk pengertian dari semiconductor itu sendiri. Setelah kurasa cukup untuk bekal perjalanan nanti, maka layar laptop pun kukembalikan ke account facebook. Itu lebih penting.

)oo(

Usai makan malam, surat izin dari majikan akhirnya kudapatkan. Tentu saja menjadi sebuah perasaan bahagia tersendiri mengingat hari minggu nanti aku akan pergi ke Taipei. Sebenarnya, mengikuti kegiatan itu hanyalah secuil alasan agar majikan percaya bahwa hari liburku tidak aku gunakan untuk sesuatu yang sia-sia. Tapi toh tetap saja dia menyenandungkan sederet pesan yang barangkali harus kuingat meski kelak aku tidak lagi bekerja dengan mereka.

“Apapun bentuk kegiatan yang akan kamu ikuti, siapapun orang yang nanti akan kamu temui, resap saripati ilmu yang sekiranya bermafaat untuk hidupmu. Lalu berbagilah. Tidak ada sesuatu yang sia-sia selama kamu bisa menyikapinya dengan baik.”

Dan aku, mungkin adalah salah satu orang yang beruntung dari sekian banyak teman seperjuangan yang kutemui. Menjadi pekerja di sebuah keluarga yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan saling menghargai merupakan sesuatu yang langka yang tidak aku dapatkan pada diri teman-teman yang kebetulan bernasib malang. Itulah sebab kenapa semangat belajarku selalu memuncak.

Yau buduan xuexi Widya…” jangan pernah berhenti untuk belajar Widya! Itu pesan penutup dari majikanku, yang pada akhirnya menjadi motto hidup dan kutulis dengan huruf capital di dinding kamar sebagai api penyemangat.

)oo(

Yeah…! Waktu menggelinding bagai bola yang diterjang Maradona. Mengantarkanku pada sebuah gawang kehidupan baru di hari minggu ini. Berharap bisa mencetak gol dan membawa piala kemenangan ketika aku pulang nanti ke tanah air, apapun itu bentuknya.

Maka setelah menyelesaikan shalat subuh dan membereskan pekerjaan rumah, akupun bersiap-siap untuk melakukan perjalanan Hsinchu-Taipei. Acara berlangsung pukul 10.00. Itu berarti jika aku berangkat pukul 08.00, aku tidak akan terlambat mengikuti setiap sesi jalannya acara.

Laptop kubawa serta, peralatan tulis tidak lupa kuselipkan di dalam tas. Ini modal dasar seorang penuntut ilmu. Jika ada sesuatu yang penting maka akan kucatat. Jika ada rasa yang sekiranya mewarnai perjalananku maka akan kuresap. Karena setiap langkah yang kuayunkan adalah guratan sejarah untuk kuwariskan ke seluruh anak cucu.

Awan langit Hsinchu mendung, hujan memang belum sepenuhnya turun. Maka kupercepat langkah menuju loket pembelian tiket bus yang letaknya tidak jauh dari rumah majikanku. Satu yang kukagumi dari negeri Dao Ming Tse ini, yaitu pelayanan fasilitas umum yang tertata rapi dan teratur. Membuatku begitu saja menembus ruang batas khayal. Ah! Seandainya saja negeriku Indonesia yang kaya itu berada ditangan pemimpin yang tepat. Yang bisa menyusun kembali puing-puing pondasi manjadi sebuah puzzle yang utuh. Bukan jatuh kepada mereka yang malah lamat-lamat melumat rakyat.

Aku tertegun dibangku halte ketika pada akhirnya wanita seksi berdasi menarikku kembali ke alam nyata. Hey! Sekarang aku di Taiwan. Pramugari bus bermata sipit itu adalah salah satu penghuninya. Dan dia memintaku untuk menunjukan tiket sebelum akhirnya dengan sopan mendampingiku menuju tempat duduk.

“Wo keyi kan kan ni de jipiao ma?” kuberikan senyum sebagai bonus ketika menyerahkan kertas bertuliskan huruf kanji itu kepadanya.

)oo(

Dan menjadi perjalanan yang tenang. Karena para penumpang bus terlena dengan alam pikirannya masing-masing. Hanya rintik gerimis yang mulai mengetuk halus kaca jendela yang menarik perhatianku. Kemudian aku terlelap bersama matsuri yang terlantun dari MP3. Ah, damai nian….

Dua jam begitu saja terlewat. Terlalu singkat. Tapi lihat, gerimis yang kubawa dari Hsinchu seketika berubah lebat. Dan aku terjaga sebelum akhirnya bus berhenti di terminal Taipei. Akhirnya aku sampai di pusat kota Taiwan setelah menunggu kesempatan dua tahun masa bekerja. Duh! Sebuah pemandangan yang benar-benar berbanding terbalik dengan Jakarta, ibu kota negeri Indonesia-ku tercinta yang bernasib malang itu.

Terlintas wajah terminal kampung Rambutan dengan para premannya. Tanjung Priuk dengan para calo-nya. Pulo Gadung dengan segala bau pesingnya. Ah! Terlalu menyedihkan! Tapi toh pada akhirnya aku harus kembali tersadar. Senyaman-nyamannya kondisiku berada di sebuah negeri asing, suatu saat nanti aku pasti akan kembali, pulang….melewati jalur-jalur yang penuh dengan sejuta kenangan tentang sebuah perjuangan.

“Siau Cie, cing wen? Ni yau qu na li?” sang pramugari seksi menyapaku ramah. Membuatku setengah terkesiap.

“Oh! Wo…wo yau qi…” duh, aku lupa. Maka sedikit tergesa-gesa aku mengeluarkan buku jurnal dari dalam tas. Dimana semua hal penting sudah tercatat dengan jelas.

“Wo yau qi keelung lu” kali ini aku menyelesaikan kalimatku dengan utuh. Dan si wanita sipit itu hanya mengangguk seraya mempersilahkan aku untuk turun.

Sempat lima menit aku berteduh di sebuah halte sebelum akhirnya mendapatkan taxi. Masih ada lima belas menit. Semoga aku tidak terlambat.

)oo(

Sebuah pemandangan yang pertama kali aku tangkap ketika turun dari taxi adalah wajah gedung kampus yang lumayan megah dan luas. Pohon-pohon rindang seolah menjelma pagar ayu yang siap menyambut siapapun yang ingin singgah. Tepat di depan tembok gerbang, tertulis dengan jelas barisan huruf ‘National Taiwan University of Science and Technology’. Mmm, kurasa aku tidak salah alamat.

Maka setengah berlari aku menembus tirai-tirai hujan menuju pos satpam. Musim dingin memang sudah lama pamit, tapi dingin yang diciptakan lewat sentuhan bulir-bulir permata dari langit itu cukup membuatku menggigil. Basah aku dibuatnya.

“There’s something I can help you Miss?” aku menangkap sebuah suara jantan dari arah belakang. Tapi belum sempat aku menoleh, sosok itu sudah berdiri bersejajar denganku. Ditangannya sehelai tisu ia sodorkan, lalu tersenyum.

“Oh! Ehm…nothing, thank you…” duh, aku dilanda gugup. Meski tidak berani memperhatikan penampilannya dengan utuh, toh mata nakalku sempat mencuri gerak-geriknya. Aku memang berada di pos satpam, tapi aku yakin dia bukan penjaga kampus ini.

“Are you from Indonesia?” tanyanya lagi. Dan sehelai tisu yang tadi masih berada dalam genggamannya sudah berpindah ke tanganku. Membuatku tersipu. Sementara tetes hujan kini mulai malu-malu. Semakin terdengar merdu. Membuat imajiku terbang menembus awan langit Taipei.

Lelaki itu berperawakan tinggi. Kulitnya putih bagai tembaga. Rambutnya pirang seperti jagung muda. Hidungnya bagai menara 101. Badannya tegap seperti layaknya ras skandinavia.

“Hey, are you hear me? What are doing here?” buyar sudah serpihan khayalanku.

Dengan menunjukan tampang lugu, kujawab juga sederet pertanyaannya. Untung kosa kata bahasa asingku cukup lumayan. “Oh, yes, I’m from Indonesia. And today, I want to follow the event on this campus.” Lancar… tapi, hey! Darimana dia tahu kalau aku orang Indonesia. Apa karena warna kulitku yang eksotik? Atau fitur wajahku yang full of Asian. Whatever! Yang pasti, setelah aku menyelesaikan kalimatku, buru-buru aku melihat putaran jam. Sesekali menatap ke awan. Lain detik menyentuh bulir-bulir hujan. Tapi ujung-ujungnya mataku malah bertaut dengan tatapaan lelaki yang masih berdiri disampingku. Terlambat, acara pasti sudah dimulai dari sepuluh menit yang lalu.

Dan lelaki hujan itu, aih…tiba-tiba saja aku mendapat ide untuk memberikan julukan itu padanya. Sepertinya dia menangkap keresahanku.

“You are late…may I accompany you, where is the place?” sebuah tawaran yang tak terduga begitu saja menyelusup melewati labirin-labirin dinding telinga. Aku terkesima.

“Of course, thanks…” menolak berarti sesat dijalan. Maka kuberikan secarik kertas bertuliskan tempat kegiatan yang akan aku ikuti kepadanya.

“Follow me!” katanya terburu-buru sembari meraih satu tanganku dan dengan cepat ku lepaskan. Aku terus mengekor di belakangnya. Setengah berlari kami menerobos hujan menuju lokasi. Student Affair Meeting Room, akhirnya aku sampai di tempat tujuan.

“Thank you Mr….” kalimatku tak sempurna.

“Han, just call me Han” jawabnya spontan. Dan kami tersenyum.

Tapi lalu sebuah suara dering ponsel yang berasal dari saku celana jeansnya mengalihkan suasana. Membuatku kembali menelan tanya yang hendak terlontar.

“Ups! Sorry…”

Sedikit menjauh, baru kemudian dia menerima panggilan itu. sambil sesekali sudut matanya mencuri pandang ke arahku. Membuatku jadi enggan beranjak masuk ke ruangan dan memutuskan untuk menunggu sampai dia selesai menerima telephone.

Lima menit kemudian dia kembali menghampiriku. “I have to go Mrs….”

“Widya, just call me Widya…” jawabku menyempurnakan kalimatnya.

“Ok Widya, nice too see you here. Enjoy your time…” katanya terburu-buru seraya berlalu menerobos hujan, meninggalkanku.

Hmmh! Pertemuan yang aneh. Makhluk dari planet mana gerangan dia berasal. Begitu saja dikirimkan padaku lewat hujan dan harus pula pergi ditelan olehnya. Mmm, barangkali dia salah satu mahasiswa asing di kampus ini. Whatever, but I just wanna say, thank you Mr. Han…

Dua jam acara berlangsung begitu saja terlewat. Meski aku datang agak sedikit terlambat, tapi toh aku tidak melewati moment-moment penting yang memang seharusnya tercatat. Diskusi hangat dari peserta dan timbal balik dari pembicara membuat kami menjadi seperti satu keluarga. Di negeri asing ini kami memang memutuskan untuk meraih mimpi, tapi sepertinya tidak akan terwujud jika hanya melakukannya sendiri. Dan itulah bukti kekuatan dari sebuah jalinan talisilaturahmi.

Maka, setelah berbasa-basi dengan kawan dunia maya yang pada akhirnya kutemukan di dunia nyata, aku pun pamit undur diri. Cukuplah perjalanan hari ini sebagai awal untuk langkah selanjutnya.

Bayangan Mr Han tiba-tiba telintas dibalik hujan ketika aku melangkah meninggalkan area kampus. Tapi Taipei, aku janji pasti akan kembali ke tempat ini…

Summer yang gerah!

23 Mei 2010

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *