About Islam

Sudah Sejauh Mana Memuliakan Bunda


Pembaca, dalam hidup yang tidak lama kita dihadapkan pada dua hal; apakah kita ingin menghargai jasa orang-orang yang membentuk karakter kita hingga hari ini atau kita ingin melupakan segala jasa mereka. Bunda dan ayah adalah mereka yang tak pernah hilang kasih sayangnya, semakin kita jauh di rantau semakin peduli ia dan semakin deras do’a dan harapan pada anaknya. Namun apakah semakin jauh kita dalam mencari pekerjaan, menabung dalam hal profesi atau bahkan sedang menempuh studi di negeri orang semakin kuat pula rasa terima kasih atas jasa bunda dan ayah. Jasa mereka membentuk kesabaran kita dalam bertindak, jasa mereka dalam mengajarkan matematika dasar, jasa mereka dalam mengenalkan kita pada huruf-huruf hijaiyah itu, apakah sudah kita balas dengan syukur dan membalas budi kebaikannya yang sejatinya tidak akan pernah bisa terbalas secara sempurna?.

 

Pembaca, terkadang kita lupa untuk membalas jasa, terkadang kita memiliki ego untuk mengklaim bahwa kita sekarang ini bukanlah karena orang lain, namun kita kadang menganggap kitalah yang membuat ini semua terwujud. Kadang kita sukar mengucapkan rasa terima kasih pada bunda dan ayah, kadang kita sulit meminta maaf ketika kita mengeraskan suara di depan mereka dan terkadang kita luput dari perhatian ketika mereka lelah, sakit atau butuh bantuan yang sangat kecil seperti mencuci piring atau membersihkan meja makan. Sudahkah kita mengirimkan doa untuk bunda dan ayah, atau jangan-jangan do’a kita disibukkan pada daftar-daftar capaian dunia yang belum juga kita dapatkan?


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (TQS al-Isra’ [17]: 23)


Pembaca yang baik, hari terus berlalu, kita semakin dewasa dan semakin terbentuk pula sikap dan cara pandang agar menempuh hidup dengan baik dan mapan. Semakin hari semakin uzur pula bunda dan ayah, semakin hari raganya tak sekuat dulu ketika ia dengan riang gembira menggendong kita dan bermain kuda-kudaan di halaman rumah. Semakin tahun semakin terlihat raut mukanya yang tak lagi kencang dan menyisakan kelemahan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Dulu kita dibelai, dikasihi, disusui dan diberikan segala apa yang kita inginkan, pernah satu ketika kita meminta dibelikan mainan namun ketika itu masa-masa sulit dalam keuangan keluarga, namun kita tak tau bahwa mereka meminjam atau mengambil tabungan hari depan untuk sekedar menyenangkan kita dengan mainan yang hanya sebentar bertahan itu.

 

Hari demi hari semakin jelas tanda ketuaan bunda dan ayah, kita sudah menempuh studi, ada pula dari kita yang merantau ke negeri orang untuk bekerja atau bahkan ada dari kita yang sudah membina rumah tangga. Namun apakah porsi perhatian dan kasih sayang seiring perjalanan hidup juga kita berikan bagian terbesarnya bagi mereka?, apakah kita sering melayangkan pesan-pesan singkat untuk bertanya keadaan mereka, atau mungkin mereka berulang tahun di usia yang sudah kepala 5 atau lebih 60 tahun, apakah saat-saat itu kita bahagiakan mereka dengan ingat dan ucapan bernada do’a?. Hari terus berlalu, kadang kita tak tau apa yang menjangkiti tubuh mereka, kadang mereka terbatuk-batuk namun tak kunjung reda, kadang mereka sudah kesulitan berjalan jauh atau mungkin mereka kini sudah tak bisa lagi berjalan dan perlu dipapah dan disuapi.


Pembaca, hari terus berlalu semakin hari semakin terlihat raut bunda dan ayah mengharapkan sesuatu yang pasti, sebuah investasi masa depan yang mereka bina sedari 1 hari kita di bumi hingga kini sudah puluhan tahun lamanya. Mereka, bunda dan ayah, kini menunggu kita, mereka bukan menunggu kemapanan tanpa akhlak mulia mereka juga bukan menunggu harta yang berlimpah yang dikirimkan tanpa ada interaksi langsung dengan anaknya. Pembaca yang baik, bunda dan ayah kini menunggu hasil dari akhlak kita yang mereka bangun sedari kecil, kini mereka ingin kita berbakti, menjadi anak yang salih dan salihah dan bermanfaat bagi sesama.

Kita, anaknya yang semoga terus tercurah perhatiannya pada bunda dan ayah, tanpa pernah kurang apalagi musnah.

Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai al-kabâir (dosa besar). Beliau menjawab “Menyekutukan Allah.” “Lalu apa lagi?” Beliau bersabda, “‘uqûq al-wâlidayn (durhaka kepada orang tua).

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Amin. [Kahlil/Sekjend FORMMIT 2011-2012]

 

-Dimuat di Majalah INTAI Edisi 61, Desember 2011-

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *