About Islam

Renungan tentang Ritualis Destruktif

Allah SWT menyindir perbuatan mereka itu. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Ma’un [107]: 1-7).

Ada beberapa yang menyebabkan timbulnya perilaku destruktif pada orang yang rajin melaksanakan ibadah ritual itu. Pertama, memisahkan kehidupan dunia dari urusan agama. Di antara mereka adalah yang lalai dalam shalatnya (‘an shalatihim sahun), Lalai dari shalat itu digambarkan pada ayat-ayat sebelumnya yakni, “Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Kedua, riya yakni melakukan ibadah dengan tujuan untuk dipuji orang lain. Ini diisyaratkan dengan kalimat, “alladzina hum yura`un”, (mereka adalah) orang-orang yang berbuat riya.

Imam Ghazali mengatakan, orang yang riya hakikatnya adalah orang yang berorientasi duniawi dan kenikmatan instant.  Mereka beribadah bukan atas kesadaran dan pengabdian kepada Allah, melainkan karena urusan duniawi.

Jika berbuat sesuatu, tidak ada yang dia inginkan selain semakin membangun kejayaan duniawi (QS An-Nisaa [4]:142). Akibat perbuatan riya itu, maka ibadah-ibadah ritual yang dilaksanakannya menjadi tidak bermanfaat. Padahal, inti dari ibadah adalah keikhlasan.

Ketiga, kikir, yaitu orang yang enggan menolong dengan sesuatu dan perbuatan yang berguna (wayamna’unal-ma’un). Perbuatan yang demikian itu adalah buah dari tidak adanya keikhlasan. Ia akan merasa rugi untuk mengeluarkan dan memberikan sesuatu jika tidak ada kompensasi duniawi seperti pujian atau popularitas. Ia hanya akan memberikan sesuatu manakala ia akan mendapat keuntungan duniawi darinya. Allah mengingatkan bahwa kikir merupakan salah satu sifat orang munafik (QS Al-Ahzab [33]: 19).

Jika ketiga penyakit ini terdapat pada diri seseorang, maka ibadah ritual yang dilakukannya tak akan mampu menolongnya menjadi pribadi yang penuh kebajikan. Sebaliknya, yang muncul adalah sosok ritualis destruktif. Semoga, kita semua, terhindar dari perbuatan ritualis destruktif tersebut. Wallahu a’lam.

Sumber: Republika Online

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *