AISC-Taiwan 2011 : Ilmuan Indonesia Bahas Pertanian Modern di Taiwan
Written by FORMMIT Monday, 21 March 2011 00:00
Taichung City TAIWAN. Untuk kedua kalinya, ilmuan Indonesia kembali berkumpul di Taiwan dalam sebuah event tahunan yang bertajuk Annual Indonesian Scholars Conference in Taiwan (AISC-Taiwan) 2011. Pertemuan ilmiah dalam rangka presentasi hasil penelitian ilmuan-ilmuan muda Indonesia ini mengangkat tema : Becoming “Asian Tiger" through modern agriculture-based Industry : revitalization and modernization of education, technology, economy, and investment climate in agricultural sector. Acara inti AISC-Taiwan 2011 yang berupa conference berlangsung pada tanggal 19 Maret 2011 di Asia University. Selain itu, pada tanggal 20 Maret 2011 juga diselenggarakan field trip ke Sun Moon Lake dan Fengchia Night Market untuk refreshment bagi peserta yang hari sebelumnya sudah mempresentasikan papernya di depan partisipan lain.

Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS., mantan Menteri Pertanian Republik Indonesia, menjadi keynote speaker dengan menyampaikan paparan berjudul Roadmap of Indonesia Agriculture : The strategy to improve food self-sufficiency and global competition. Pada sesi utama ini, lulusan University of Reading, Inggris ini menyampaikan tentang strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi berkurangnya lahan pertanian, perubahan iklim, dan krisis pangan dunia. “Yang terpenting adalah keinginan kuat dan komitmen para pemimpin di pemerintahan dalam bidang politik dan penguatan semua stakeholders bidang pertanian (petani, extention workers, peneliti, sektor swasta, pemerintah, dll)”, paparnya. “Manajemen sistem yang baik, dukungan penuh dari extention workers, pengamat hama dan pemerintah daerah, fasilitas produksi yang memadai (infrastruktur, benih, pupuk, air, dll), subsidi dan insentif yang sesuai, pengimplementasian intentifikasi dan ekstensifikasi pertanian, serta kebijakan yang tepat untuk harga beras juga harus dijalankan untuk dapat menjamin kecukupan pangan nasional”, imbuh mantan Menteri Pertanian RI yang berhasil membawa Indonesia swasembada beras di era jabatannya itu. Pada sesi terpisah, dosen Fateta IPB ini menyampaikan bahwa acara semacam ini sangat positif sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dan saling tukar informasi.
Selanjutnya pada sesi kedua, Dr. Jen-Chyuan Lee, Director of Food and Fertilizer Technology Center of The Asian Pasific Region (FFTC) membawakan tema Develop a competitive, market-oriented agriculture industry with the support of advanced technology. Associate Professor di National Taiwan University (NTU) ini menyampaikan informasi seputar teknologi canggih yang perlu digunakan dalam bidang agroindustri, seperti konservasi plasma nutfah, DNA sequencing, rekayasa genetik, structural and functional genomics, kultur jaringan, hingga kloning hewan. Beliau juga menggarisbawahi tentang pentingnya mengulang kesuksesan dalam berinovasi karena hal inilah yang akan menjadi titik kritis dalam pengembangan suatu perusahaan.
Walaupun tidak dapat hadir ke Taiwan karena bencana alam yang baru-baru ini melanda negaranya, Prof. Naoshi Kondo berhasil menyihir peserta dengan slide presentasinya yang “hidup” dan sangat menarik. Dengan media tidak langsung seperti video rekaman sekalipun, Profesor muda berusia 40 tahun ini sukses menunjukkan kelasnya sebagai scientist handal. Selama 31 menit, presentasi berjudul ”the role of advanced agricultural technology on improving national agriculture competitiveness” ini mengupas tentang “robotization in agriculture” yang telah diimplementasikan di Negeri Sakura. Contohnya adalah penggunaan robot dalam pemanenan tomat. Walaupun masih memiliki kelemahan, yaitu biaya pembuatan robot yang mahal dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pemanenan, namun berbagai pengembangan dan perbaikan masih sangat potensial untuk dilakukan di masa yang akan datang.
Pembicara terakhir pada sesi diskusi panel adalah Ibu Dina Setiawati, Direktur Bidang Investasi KDEI yang memberikan presentasi berjudul “Indonesia’s efforts to improve Indonesia’s ease of doing business and its business climate”. Pemaparan dari Beliau cukup memberikan gambaran seputar iklim investasi, terutama dalam bidang pertanian di tanah air.

Setelah sesi pembicara utama dan pembicara tamu, selanjutnya para peserta melakukan presentasi paper yang dilakukan perbidang, meliputi bidang budaya, linguistik dan studi perubahan sosial; ekonomi, managemen dan bisnis; elektronik dan kontrol otomatik; komputer sains dan teknologi informasi; material dan manufaktur, infrastruktur dan managemen bencana, energi terbarukan dan perubahan iklim; lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, pertanian dan agrobisnis; serta bidang kesehatan dan farmasi.

“AISC-Taiwan 2011 adalah event yang membuat saya senang, sedih, terharu dan menambah sejuta wawasan, ilmu, dan pengalaman. Sungguh beruntung bisa menjadi bagian dari AISC-Taiwan 2011”, curhat Ketua Panitia AISC-Taiwan 2011, David Agustriawan. “Harapan buat AISC-Taiwan 2012, semoga bisa lebih sukses, memiliki kepanitiaan yang solid penuh kekeluargaan dan memberikan kebanggaan buat semua yang terlibat di event tahunan ini. Paling tidak kontribusi kecil inilah yang dapat kami lakukan sebagai mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri demi negara tercinta”, pungkas mahasiswa Biomedical Informatics di Asia University ini.
Acara ini digagas dan diselenggarakan oleh Indonesian Committee for Science and Technology Transfer in Taiwan (IC-3T) - Indonesian Muslim Student Forum in Taiwan (FORMMIT). IC3T baru berumur satu tahun dan diresmikan oleh Dr. Tjahjo Pranoto dari Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, pada AISC-Taiwan 2010 di kampus Southern Taiwan University (STU), Tainan, Taiwan.
AISC-Taiwan 2011 terselenggara berkat dukungan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Kementrian Pendidikan Nasional, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4), Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia (MITI) , Indonesian Society for Soft Computing (SC-INA), Council of Agriculture Taiwan (COA) dan Asia University sebagai host acara. [BPS]


