About Islam

Pengakuan Surya Fachrizal Saat Ditembak Israel (4)

Lalu dia membuka ikatan baju pasien di belakang, untuk melihat dada saya. Saya kaget setengah mati melihat dada saya, “Wah, bener-bener dibongkar nih gue…” Sebuah bekas sayatan membujur dari bawah ulu hati terus sampai sekitar 6 jari di bawah pusar, sudah dalam keadaan terjahit rapi dengan logam semacam staples. Tidak ada bekas darah sedikit pun. Lubang bekas jalan masuk peluru juga dijahit dengan staples, ada jahitan lain di dekatnya, tapi saya tak tahu itu luka apa. Alhamdulillah, saya hanya sangat bersyukur proses operasi itu semua saya lalui dalam keadaan sama sekali tidak sadar.

Baru mulai saat itulah saya merasakan atmosfir Yahudi di sekitar saya karena orang-orang saling menyapa dan berbicara dengan bahasa Ibrani. Saya lihat pemandangan di luar jendela indah. Tanahnya berbukit-bukit dan hijau. Ruangan kamar kami berpendingin.

Alhamdulillah, saya sama sekali tidak merasa khawatir, yang ada rasa bosan. Komunikasi saya dengan relawan Turki di kamar saya hanya senyum dan berpegangan tangan. Kami tak saling mengerti bahasa satu sama lain.

Seorang petugas berseragam biru muda, kadang-kadang mengenakan kaos polo, selalu ada di dalam kamar bergantian dengan temannya. Tadinya saya kira dia polisi, ternyata petugas imigrasi. Sejak hari Senin malam sampai Kamis siang saya tidak melakukan apapun kecuali berbaring dan menunggu waktu solat. Saya berpikir mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan tidak sia-sia. Sempat juga terpikir kapan bisa berkumpul keluarga.

Hari Rabu siang, seorang lelaki bule Yahudi yang ramah mengaku bernama Steve, menemui saya di kamar. Dia didampingi dua orang berseragam putih bergaris-garis biru dari Magen David Adom (Bintang David Merah, palang merahnya Israel). Di punggungnya ada bintang David merah. Steve yang gemuk dan mengenakan kaos polo merah itu bilang, “Beberapa hari yang lalu saya baru tiba dari Jakarta. Seminggu saya di Jakarta. Saya sudah kontak dengan departemen kesehatan Indonesia, dr Rustam. Begitu sehat, kami akan mengurus kepulangan Anda.”

Kunjungan singkat Steve dan kawan-kawan hanya sekitar 10 menit. Saya sendiri saat itu masih suka tertidur tanpa sadar, mungkin pengaruh obat pain killer yang terus-menerus diberikan, mungkin juga karena nyaman bernafas dengan tabung oksigen.

Yang menggembirakan, hari Kamis, saya menerima telepon istimewa. Duta Besar Yordania untuk Israel menelepon saya diatur oleh seorang diplomat Yordania yang bisa berbahasa Indonesia. Rasanya senang sekali, karena mulai ada titik terang.

Tapi rupanya ada kejutan menyenangkan berikutnya, dengan fasilitas teleconference, para diplomat Yordania menghubungkan saya dengan Duta Besar Indonesia di Amman, Yordania, Pak Zainulbahar Noor. Setelah menanyakan keadaan saya, beliau menawarkan kalau saya mau bicara dengan salah satu teman. “Di Yordania sini banyak teman Anda…” kata beliau.

Saya sama sekali tidak menyangka bahwa yang dimaksud “teman-teman” itu adalah teman-teman relawan dan wartawan Indonesia. Karena dalam bayangan saya, teman-teman relawan dan wartawan Indonesia yang ada di Mavi Marmara masih ditahan di penjara Israel. Jadi saya bilang, “Terserah lah Pak…” Jadi kaget dan senang sekali begitu yang bicara Mas Dzikrullah meskipun cuma sebentar. Alhamdulillah. (bersambung)

Sumber: Republika Online

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *