Social

Optimalisasi Kompetensi Ummat

 

 

Namun tidaklah cukup pendekatan SWOT untuk ‘menerawang’ kondisi kemampuan di masa yang akan datang. Perlu garansi ketahanan dalam berkompetisi. Maka paling tidak kualitas ummat harus dilipatkandakan “Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (QS 8:65), memiliki kematangan “tamayyuz”pada sisi mutamayyiz fii rijal (kualitas diri), mutamayyiz fi adaa (penunaian tugas), mutamayyiz fii intaj (sentuhan produk-finishing touch), utamayyiz fii khidmah (pelayanan), dan mutamayyiz fii muamalah (bermasyarakat), serta memiliki kesiapan tinggi “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! ” (QS. 4:71), unik, serta mudah diorganisir “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ” (QS. 61.4). Dalam pendekatan manajemen modern pendekatan VRIO, valueable, rareness, immitateness, organized (Hamel & Prahalat, 1996) menjadi tools untuk memastikan tingkat persaingan SDM ummat di masa yang akan datang. Secara Statistik Ummat Islam di dunia berjumlah 30% dari jumlah manusia hidup yang ada di dunia. Namun secara wa’qi i kualitas kita tidaklah memberikan pengaruh hingga 30% dinamika manusia di bumi ini. “….. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir….” (QS 8:65). Bahkan sekian banyak negeri yang ditinggali mayoritas muslim sering menjadi obyek dalam perkembangan dinamika dunia ini. Sebuah pertanyaan besar mungkin akan muncul. Seperti apakah sumber daya (resources) ummat yang kita miliki sekarang ini? Dan bagaimana dengan kompetensinya?

Dalam era kompetisi yang begitu ketat, pendekatan ilmuwan barat dalam hal ini mengakui bahwa kombinasi resources dengan competencies akan menghasilkan posisi competitive advantages pada sebuah entitas (Boxal P., 1998), yang seharusnya menjadi milik ummat. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. 3:110). Para peneliti pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan berbagai pendektan teori ontology, epistemology dan methodology (Lynham, SA, 2000) serta pendekatan perspektive pengembangan sumberdaya manusia secara universal, contigency maupun configurational perspectives (Delery et al, 1996), talah berusaha mengembangkan model teori pengembangan SDM dalam perspektive perilaku-behavioral, cybernetic model, agency/transactional cost model, resources based view, power/resources dependent model, institutional model hingga human capital model (Wright et al, 1992). Pengembangan teori dengan tetap memperhatikan faktor dinamika lingkungan baik secara sosiologi, ekonomi, manajemen, psikologi, teknologi, struktur internal hingga budaya negara (Jackson et al, 1995), telah menghasilkan pendekatan desain strategis pengelolan SDM (Defender, Prospector, Analyzer) yang diuji dalam berbagai kondisi dinamika lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhinya (Miles et al, 1984). Desain strategis ini memperhatikan 5 variabel dasar yaitu tipologi (Lengnick et al, 1988), arsitektural (Lepak et al, 1999), fleksibilitas (Wright et al, 1998), sustainabilitas (Lado et al, 1994) dan competitive Advantages (Boxall P., 1998). Tipologi pengelolan SDM didasari oleh tingkat kesiapan SDM dan pengelolanya dengan tuntutan pertumbuhan yang dihadapi. Berdasarkan tuntutan ini, tipologi pengelolaan SDM di kelompokkan menjadi 4 tipe; pengarahan, pengembangan, produktivitas, dan ekspansi. Pengarahan SDM dilakukan jika tingkat kesiapan dan dan orientasi pertumbuhannya rendah, sedangkan jika tingkat kesiapan dan orintasi pertumbuhan tinggi, maka pendekatan yang dilakukan adalah ekspansi. Begitupun jiga tingkat kesiapan rendah dan tuntutan pertumbuhan tinggi, maka pendekatan tipe pengelolaan SDM di arahkan peda pengembangan. Sebaliknya jika tuntutan pertumbuhan tinggi namun tingkat kesiapan SDM tinggi maka yang dilakukan fokuskan adalah produktivitas.

Dalam melakukan desain pengelolaan SDM, faktor arsitektural kondisi SDM perli di perhatikan untuk melakukan penataan, penempatan dan alokasi SDM agar tepat sasara. Ada 4 pendekatan berdasarkan tingkat kemampuan SDM menghadapi persoalan yang ada. Tingkat kesiapan ini dinilai dari 4 perspektif penekatan competitive advantages. Yang pertama adalah tingkat nilai yang dimiliki oleh SDM yaitu kemampuan SDM dalam menangkap peluang pengembangan potensi yang dihadapi, serta kemampuan kemampuan menurunkan tingkat resistensi yang di hadapinya pula. Kedua, adalah tingkat kematangan SDM dalam menghadapi permasalahan dan dinamika. Ketiga adalah sulitnya di tiru potensi SDM yang ada oleh kompetitor dan sulitnya di ganti dengan sumber daya lain karena keunikan SDM yang dimiliki. Keempat adalah potensi organisir baik mengorganisir maupun diorganisir dari SDM yang ada dalam sebuah sistem. Ke empat perspektif ini akan mengarahkan pada pola arsitektural penanganan SDM untuk diarahkan dan dialokasikan. Alokasi SDM bisa dilakokan dengan pendekatan pengembangan progresif internal yang dilakukan oleh ummat sebagai sebuah entitas, melakukan akuisisi terhadap potensi SDM lain, kontrak dan kerjasama, serta aliansi berbagai potensi SDM.

Modal ini diharapkan akan membawa ummat memiliki keunggulan menuju izzah dan kemenangan dengan menjaga lima syarat istihqaq annajah (syarat sukses) menuju sukses (performance). Jadi ada khomsah syuruuth istihqaqin najah. Kemenangan diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Wa man nashru illaa min ‘indillahil ‘azizil hakim. Lima syarat untuk meraih kemenangan ini, yang yastahiqqun najah ini adalah ; al-qiyam tastahiqun najah (winning value), Almanhaju yastahiqqun najah (Winning Concept), An-Nizham yastahiqqun najah (Winning System), Al-jama’atu yastahiqqunnajah (Winning team), dan Al-Ghoyatu tastahiqqun najah (winning goal).

Proses pengelolaan SDM yang telah contohkan Rasulullah SAW sehingga menghasilkan generasi berkualitas para shahabat, yang diabadikanNYA dalam surat Al fath 29.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 48:29)

Generasi awal yang di rekrut Rasulullah menjadi panduan bagi kita untuk mengumpulkan potensi ummat yang beragam karakter dan kompetensi, layaknya Abu Bakar ash shidiq, Ummar bin khattab, Utsman bin affan dan Ali bin abi thalib, yang selalu membersamai tinta emas perjalanan shiroh Rasulullah SAW. Seleksi yang cukup ketat yang dilakukan Rasulullah pada para shahabatnya dengan mekanisme pembinaan yang di jaga sirriyahnya di tempat Arqam bin abi Arqam. Serta penempatan dan penugasan bagi para shahabar sebagai para duta Islam ke berbagai kekuatan dunia saat itu seperti ke Habasyah, Kisra, serta Romawi. Bahkan proses peningkatan kualitas para shahabat dengan berbagai tadrib di medan jihad seperti keberangkatan ke Badar, ketaatan di Uhud, inovasi di khandak dan lain sebagainya, yang menjadikan para shahabat menjadi generasi yang unik penuh dengan inovasi dan kejutan sejarah. Tidak lupa Rasulullah SAW pun selalu mengingatkan akan jaza’ yang disediakan Allah bagi setiap muslim yang berprestasi membangun peradaban. Sayangnya berbagai ibroh yang telah di contohkan Rasulullah SAW pada generasi para shahabat kurang bisa di kembangkan oleh ummat Islam sekarang ini. Sehingga kejumudan (statis) luar biasar terjadi pada dinamika ummat Islam di masa ini. Rekrutmen dan seleksi potensi ummat yang begitu berlimpah agar mampu dikelola untuk menghasilkan outcome yang bermanfaat sering di kesampingkan. Bahkan ummat sering merasa menikmati konflik yang ada dalam tubuh ummat Islam. Penempatan potensi serta penjagaannya dengan selalu di monitor kinerja optimalisasi potensi ummat masih belum optimal. Kerja kolektif ummat masih belum ‘berasa’. Masing-masing individu yang berpotensi tidak mampu mengarahkan keunggulan potensinya untuk menghasilkan kinerja kolektif. Bahkan sering dijumpai potensi yang ada hanya mampu di’nikmati’ oleh dirinya sendiri secara materi. Disisi lain penghargaan terhadap potensi ummat yang muncul kurang memadai. Para engginer, teknokrat dari berbagai disiplin keilmuan dan teknologi, serta penemuan berbagai teknologi baru yang bermanfaat bagi ummat kadang masih kurang mendapat perhatian dan penghargaan dari ummat itu sendiri. Ummat dan masyarakat masih lebih menghargai ‘selebritis’ dari pada prestasi dari kinerja produktif yang dihasilkan para ilmuwan. Sehingga tidak bisa disalahkan ketika ‘turn over’ potensi ummat begitu tinggi. Sehingga potensi mereka justru di manfaatkan oleh ‘pihak’ lain.

Sudah saatnya kita kembalikan lagi regenerasi dan pengelolaan (Human resources management) ummat, agar tidak tersia-sia potensi yang telah dimiliki, serta bisa diakselerasi secara komulatif dalam kerangka ukhuwwah Islamiyyah, dengan pembinaan yang terstruktur, terarah, dengan tahap yang jelas, dengan tidak melupakan sisi kemanusiaannya untuk dihargai atas jerih payah dan kinerjanya, serta terakselerasi dari sisi horisontal maupun sisi vertikal. Oleh karenanya pembinaan (tarbiyyah), ummat harus dimulai dari proses rekrutmen dan seleksi yang terbuka dan ketat, reorientasi optimalisasi potensi, penempatan (placement) potensi yang sesuai, pelatihan dan pengembangan (training and development) potensi menghadapi tantangan masa depan, serta pemberian penghargaan yang layak demi kemanusiaan (compensation). Semoga akan mengembalikan kembali izzah ummat yang terlenakan. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. 3:110).

Wallahu a’lam bi showwab.

Comments

comments