Fiqh

Mendongkrak Fiqh Perubahan

Belum catatan sejarah yang lain oleh para Ilmuwan muslim seperti Al-Samawal, Al-Tusi, Al-Farisi, Al-Baghdadi, Abu-al-Wafa, Al-Kashi, Al-Biruni, yang tersimpan di berbagai perpustakaan universitas di eropa dan Amerika. Ilmu trigonometri yang ditemukan Al-Tusi dalam bukunya ‘Shakl Al-Qitaa’, atau ‘The Transversal Figure’, Abu al-Wafa dalam bukunya ‘Kitab al Handasa’, or ‘The Book of Applied Geometry’. Ilmu Kimia Al-Kindi dalam bukunya ‘Kitab al-Taraffuq fi al-‘itr’, atau ‘The Book of the Chemistry of Perfume and Distillations’. Jabir ibn Hayyan dalam bukunya ‘Al-Khawass al-Kabir’, atau ‘Great Book of Chemical Properties’, Jabir ibn Hayyan dalam bukunya ‘Al-Mawazin’, atau ‘The Weights and Measures’, ‘Al-Mizaj’, atau ‘The Chemical Combination’ dan ‘Al-Asbagh’, atau ‘The Dyes’, ‘Kitab ikhraj ma fi alquwwa ila al-fi’l’, atau ‘The Book of Obtaining from what was in the Power to the Action’, serta Al-Razi dalam bukunya ‘Kitab al Asrar’, atau ‘The Book of the Secret of the Secrets’ tertanda abad 17-18 tersimpan di the US National Library of Medicine. Begitupun Ilmu Geometry Al-Farabi, serta Penemuan ilmu Mekanika oleh Al-Jazari dalam buku ‘Al-Jami’ bayn al’Ilm al-Nafi’ wa sina’at al-hiyal’, atau ‘The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices’ yang tersimpan di the Metrapolitan Museum of Art New York, USA. Penemuan ilmu Kimia Al-Kindi: ‘Kitab Kimiya’ al-‘itr’, atau ‘Book of the Chemistry of Perfume and Distillations’, serta ilmuwan muslim lain seperti Banu Musa bersaudara: ‘Kitab al-hiyal al-Handasiyah’, atau ‘Book of Ingenious Devices’. Serta Ilmu tentang teknologi Kamera Ibn al-Haitham (Alhazen): ‘Kitab al-Manazir’, atau ‘The Book of Optics’. Teknologi Sound System oleh Al-Farabi dalam bukunya ‘Kitab al-musiqi al-Kabir’, atau ‘The Great Book of Music’, tersimpan di Columbia University library, USA sebagai koleksi Omar Khayyam, pada abad-13. Ilmu tentang Optik Ibn al-Haitham (Alhazen) dalam bukunya ‘Kitab al-Manazir’, atau ‘The Book of Optics’. Pada abad 16 di cetak dengan judul “Optic Thesaurus Alhazeni Arabis libri septem nunc primum editi”, tersimpan di the British Library, sedangkan cetakan pada abad 16 dengan judul “ Manazir”, tersimpan di Cambridge University Library, UK. Ilmu Pertanian Al-Masudi dalam bukunya ‘Muruj al-dhahab wa Maadin al-Jawhar’, atau ‘The Meadows of Gold and Quarries of Jewels’, Ibn Bassal: ‘Kitab al-Filaha’, atau ‘Book of Agriculture’, Ibn al-Awwam dalam bukunya ‘Kitab al-Filaha,’ atau ‘The Book of Agriculture’ dimana edisi abad 19 berada di Cambridge University Library.

Penemuan Ilmu sosial budaya seperti penemuan permainan Catur oleh Al-Hanbali dalam buku ‘Kitab al-namuthaj al-qital fi la’b al-Shatranj’, atau ‘Book of the Examples of Warfare in the Game of Chess’ dan oleh Ibn Khaldun dalam buku ‘Al-Muqadimah’, atau ‘The Introduction’, yang tersimpan di Durham University Library. Ilmu Kedokteran dalam Buku Al-Zahrawi (Abulcasis) ‘Al-Tasrif li-man ‘ajiza ‘an al-taalif ’ atau ‘al-Tasrif ’ atau ‘The Method of Medicine’, atau ‘The Arrangement of Medicine’ yang di cetak di Venice pada abad 15 dengan judul “The Liber Servitoris of Abulcasis”, tersimpan di The Library of National Academy of Medicine, Paris, France. Ilmu hewan Al-Jahiz dalam bukunya ‘Al-Hayawan’, atau ‘Book of Animals’, dan Al-Jahiz dalam bukunya ‘Fen al-Sukut’atau ‘The Art of Keeping One’s Mouth Shut’, serta Al-Jahiz dalam bukunya ‘Al-Bayan wa’l-tabyin’, atau ‘Eloquence and Elucidation’, tersimpan di Yale University Library.

Dan ilmu pengetahuan Alam lain seperti ditulis oleh Al-Muqaddasi dalam bukunya ‘Ahsan at-Taqasim fi Ma’arifat al-Aqalim’, atau ‘The Best Divisions for Knowledge of the Regions’ pada abad 19, tersimpan di Glasgow University library, Scotland, UK, dan di Cambridge University Library. Planet Bumi penemuan Earth. Al-Battani dalam bukunya ‘Al-Zij ’, atau ‘De Scientia Stellarum- De Numeris Stellarum et Motibus’. Cetakan abad 17 tersimpan di the Cambridge University Library. Ilmu Bumi karya Al-Biruni dalam bukunya ‘Al-Qanun al-Mas’udi’, atau ‘The Canon of Masudi’ tersimpan di The University of Michigan, Princeton University, New Jersey, USA. Ilmu Navigasi temuan Al-Masudi dalam bukunya ‘Muruj al-dhahab wa Maadin al-Jawhar’, atau ‘The Meadows of Gold and Quarries of Jewels. Peralatan Astronomi temuan Taqi Al-Din dalam bukunya ’Turuq al-Saniyya fi al-Alat al- Ruhaniyya’, or ‘Sublime Methods of Spiritual Machines’.

Pengaruh Dunia Islam terhadap perkembangan barat

Universitas Oxford dan Cambridge telah mencontoh universitas pertama yang dikembangkan berbasis masjid, menjadi pusat kegiatan. Masjid besar universitas seperti al-Qarawiyyin (859 CE, Fez), Al-Azhar (956 CE, Cairo) and Cordoba (abad 8). Dibawah pemerintahan Ottoman (abad 15-20), dunia akademisi Islam sebagai pusat pembelajaran dunia. Sistem perkuliahan di masa ottoman, terintegrasi dengan melibatkan masjid, rumahsakit, sekolah dan dapur umum serta area tempat makan, merupakan proses revolusioner dalam akses pembelajaran di wilayah public dengan jaminan makan, kesejatan dan akomodasi.

Musik. Do re mi fa sol la si do yang di kembangkan dari notasi bahasa arab Dal-Ra-Mim-Fa-Sad-Lam-Sin-dal dikembangkan musisi Italia Guido of Arezzo ( tahun 995-1050) pada tahun 1026. Minuman jus yang dikenal dunia Muslim yang di kembangkan Lord Byron pertama kali di temukan oleh dunia arab kemudian di tiru olth Itali, prancis dan inggris. Sebagaimana teknologi pengembangan minuman sirup yang ada sekarang. Penemuan kosmetik oleh ahli cosmetologists dan bapak bedah/operasi Abu al-Qassim al-Zahrawi, atau Abulcassis (936-1013). Dia menulis ensiklopedia kedokteran dengan judul Al-Tasreef dalam 30 jilid, kemudian di terjemahkan ke dalam bahasa latin dan digunakan sebagai buku rujukan di kebanyakan universitas di eropa.

Operasi Katerak pertama dilakukan pada abad-10 di Iraq. Al-Kindi adalah orantg petama yang mampu menjawab teori emisi Euclida dan mampu memberikan masukan sebagaimana teori volume of continuous radiations. Kemudian dikembangkan oleh Ibn al-Haytham yang juga mampu memberikan penjelasan bagaimana sinar cahaya yang datang pada garis lurus. Teorinya mengenai optik geometri dan fisiologi kemudian di kembangkan oleh Roger Bacon dari Inggris di abad-13 atau 3 abad setelah penemuan di dunia Islam dan Witelo dari Jerman. Ibn al-Haitham (965-1039) adalah orang pertama yang menjelaskan mengapa benda dapat dilihat oleh mata karena adanya pantulan cahaya, dengan pendekatan matematika dengan prinsip-prinsip ilmu fisika. Dalam penelitiannya dia juga menemukan fenomene teknologi kamera obscura . Penemuan operasi plastik pertama pada abad-10 oleh seorang dokter muslim Al zahrawi. Dia juga sebagai pioneer penemu alat-alat kedokteran yang hingga kini masih terpakai. Dalam buki tasrifnya dia menerangkan tentang operasi polip hidung, bedah mata, telingan dan gigi dengan deskripsi yang sangat ditail dengan peralatan operasinya

Continues improvement Dakwah Rasul dan para sahabat: Perkembangan Dunia Islam

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3: 104)

Mobilitas Dakwah Rasulullah SAW bersama dan diteruskan para sahabat tidaklah hanya terbatas pada operasi penaklukan paradigma Tauhid saja. Namun operasi dakwah Islam yang dilakukan memiliki tahapan yang menjadikan manusia memiliki produktifitas tinggi

dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 9: 105)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. 3: 190-191)

Serta untuk mendukung hajat hidup dan kehidupan kemanusiaannya tidak hanya berorientasi pada outcomes akhirat namun juga tidak melupakan kebutuhan dunianya. Keberhasilan. Hal ini tidak terlepas dari strategi operasional Dakwah Rasulullah SAW dengan melakukan perubahan pertahap setiap individu muslim sebagai pembentuk komunitas muslim yang produktif. Adapun tahapan perubahan individu muslim tersebut meliputi paling tidak 5 langkah besar dengan langkah pertama yaitu Takhwiilul jahiliyah ilal ma’rifah (merubah kebodohan manusia atas diri dan lingkungannya kepada sebuah pemahaman yang komprehensif tentang Islam dan alam semesta). Firman Allah dalam surat Ali Imran 190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. 3: 190-191)”dan surat Ar Rahman 33, “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” mendorong manusia untuk memahami potensi diri dan dinamika alam sekitar. Hal ini perlu di topang dengan pemahaman yang mendasar tentang konsep-konsep keislaman. Pemahaman dasar keislaman meliputi pemahaman dasar ketauhidan, pemahaman dasar tentang positioning Rosul dalam Islam, pemahaman dasar amaliyah islam, pemahaman dasar akan dan pengetahuan tentang diri manusia dan alam sekitar. Pemahaman dasar ketauhidan akan menuntun manusia akan pegangan pokok aqidah dalam Islam, sedang pemahaman positioning Rasulullah dasar amaliyah akan menuntun manusia dalam mengoperasionalisasikan pokok2 ajaran Islam, serta pemahaman tentang manusia dan alam semesta mendorong untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi diri dan alam untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dalam menfungsikan tugas pokok sebagai abdi dan khalifah. Bahkan Allah memberikan peluang dan tantang kepada manusia bahkan jin dalam mengoptimalkan potensi diri, ilmu dan teknologi yang mampu dimiliki untuk menguasai dan mengelola langit dan bumi (QS. 55:33)

Langkah ke-2 takhwiilul ma’rifah ilal Fikroh (Merubah pemahaman dan pengetahuan akan dasar serta keislaman menuju pattern berpikir produktif konstruktif). Kebebasan berfikir manusia di arahkan dalam islam agar mampu teroptimalkan secara maksimal. Sehingga islam memberikan ‘bocoran’ potensi manusia dengan guidance Al Quran dan Sunnah, berupa pattern keilmuan yang dibingkai dalam sebuah pola fikir / fikroh. Namun sebagaian manusia yang memandang bahwa ‘pembatasan’ berfikir dalam beragama, akan menyempitkan peluang keilmuan manusia. Gambaran ini merupakan kesalahan fatal manusia menilai dirinya sendiri. Cara pandang apapun akan sepakat jika yang namanya manusia akan memiliki keterbatasan intelektual baik dalam dimensi waktu dan tempat. Justru dengan sensitifitas pengambilan pelajaran yang terkandung dalam al Quran, akan memberikan jalan bagi kita yang lebih efektif untuk menemukan teknologi masa depannya. Peristiwa Isro’ mi’roj memberikan gambaran betapa manusia memiliki keterbatasan dan penguasaan teknologi untuk memahami peristiwa ini. Namun 16 abad kemudian justru teknologi pesawat terbang mampu memahami peristiwa isro mi’roj. Bahkan dengan teori kuatum, manusia berusaha membuktikan bahwa mereka mampu untuk mengatasi pembatasan ruang waktu yang mereka miliki. Sehingga manusia yakin bisa melakukan loncatan waktu baik ke depan maupun ke belakang.

Beberapa abad silam, logika manusia belum mampu memahami bagaimana seorang manusia bisa berbicara dengan manusia yang lain pada perbedaan tempat yang jauh. Namun teknologi telepon saat ini mampu membuktikannya. Bisa jadi kehebatan manusia saat ini masih belum mampu menangkap pemahaman indikasi peristiwa yang di gambarkan dalam al Quran. Namun dengan kayakinan (fikroh) apa yang ada dalam al Quran dan sunnah adalah benar adanya, akan lebih memberikan jalan bagi manusia untuk menemukan teknologi di masa depannya. Demikianlah justru dengan memiliki fikroh islamiyyah manusia akan mampu menemukan berbagai inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk kehidupannya.

Langkah ke-3 takhwiilul Fikroh ila Harokah (peningkatan dan operasionalisasi kerangka berpikir epistemologis (Pemahaman dasar-dasas Ilmu) and ontologis (Pemahaman akan penilaian terhadap kenyataan yang dihadapi) dan metodologis (Pemahaman terhadap cara pensikapan)[1] menuju amal dan aplikasi riil). Berbagai penemuan ilmu dan teknologi di erea keemasan Islam, mampu untuk melakukan lompatan ilmu pengetahuan yang di kembangkan oleh persia dan romawi yang selalu berkutat pada ranah filosofis yang justru lebih banyak di bumbui dengan hal yang berkaitan dengan mistis. Ilmuwan Islam mampu untuk merubah ilmu pengetahuan yang terjebak di ranah filosifis tersebut pada tataran keilmuan yang lebih operasional sebagaimana ilmu alchemi menjadi chemical. Hal ini memberikan sumbangan besar terhadap filsafat ilmu hingga tataran metodologis. Dari orientasi kualitatif menjadi kuantitatif, baik dari sisi input, proses hingga output. Sehingga ribuan penemuan ilmu dan teknologi di masa keemasan islam tersebut, mempu memberikan perubahan dunia dan pola hirup manusia dari tradisional primitif menjadi modern yang berorientasi masa depan futuris, sebagaimana penemuan di bidang kedokteran dengan berbagai peralatan bedah dan pengombatannya. Orientasi hasil dan outcomes dari perkembangan ilmu di dunia islam tersebut mengarah pada target pemanfaatan dari perkembangan ilmu yang didapatkan. Riset eksperimental banyak berkembang di era ini. Sehingga berbagai inovasi keilmuan dan teknologi berkembang begitu cepat sebagaiman penemuan seorang Abbas ibn Firnas mampu menemukan lebih dari 1 teknologi baru setiap tahunnya selama 40 tahun riset yang dilakukannya hingga akhir hayat di tutup usia 70 tahun, yang jika di komparasikan dengan ilmuwan masa kini maka dia akan mendapatkan minimal satu nobel setiap tahunnya. Betapa produktifitas seorang ilmuwan muslim tidak pernah berhenti dengan keterbatasanyang mungkin di hadapinya.

Langkah ke-4 takhwiilul Harokah ila natiijah (Mengarahkan aktivitas berbasis target yang jelas/Activities based outcomes[2]). “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS 2:148). Dan jargon “Man sana sunnatan hasanatan falahu ajrahu wa ajra man ‘amila ba’dahu”, menjadi trigger utama para iluwan muslim saat itu yang mampu diturunkan oleh generasi para sahabat ke generasi sesudahnya. orientasi nafi’un lil ghoirihi – kemanfaatan untuk kehidupan kemanusiaan, menjadi batasan outcome dari setiap aktivitas riset yang mereka lakukan. Inovasi terhadap penemuan baru dan unik selalu menjadi bahan ujian utama dari kontribusi yang mereka berikan. Apakah hasil riset mereka mengandung nilai kemanfatan hasil yang tinggi bagi manusia atau hanya sekedar terbatasi dengan proses riset yang mereka lakukan sebagai salah satu pemenuhan kepuasan intelektual belaka. Kemudian ke apakah teknologi temuan itu memiliki kesiapan operasi lapangan atau hanya bisa digunakan sebagai uji laboratorium saja, serta apakah hasil riset mereka berkualitas atau mudah untuk di imitasi atau duplikasi dan apakah hasil riset mereka bisa terintegrasi dengan teknologi lain untuk pengembangan ke depan atau teknologi yang jumud, rigid hanya memiliki kemanfaatan sementara [3].

Langkah ke-5 takhwiilul natiijah ila ghoyyah hiya mardhotillah (Mengarahkan potensi hasil pada main Objectives/Vision). Langkah jaudatul ada’ / finishing touch dalam polesan Rasul dan para sahabat kepada generasi produktif berikutnya yang menggaransi bingkai para ilmuwan dan teknokrat muslim adalah tetap menjaga keikhlasan dan orientasi ketauhidan atas kerja keras mereka mengembangkan ilmu dan pengetahuan sebagai sarana hidup manusia dalam beribadah. Inilah yang akan dan pasti membedakan orientasi pengembangan ilmu dan teknologi di kalangan dunia Islam dengan yang berpegang pada ilmu untuk ilmu, bukan ilmu untuk ibadah. Oleh karenanya, para interlektual, ilmuwan, dan teknokrat muslim akan mampu untuk menambah iman dan ketaqwaan mereka kepada Allah serta menjaga dinamika da’awi, tarbawi serta haroki mereka di kesibukan riset dan pengembangan ilmu dan teknologi yang mereka lakukan. Serta akan menjaga mereka dari munculnya ujub-kesombongan atas prestasi-prestasi mereka.


[1] Susan A Lynham, 2000, Theory building in the human resource development profession, Human Resource Development Quarterly; 11, 2; pg. 159

[2] Lado, Augustine A; Wilson, Mary C, 1994, Human resource systems and sustained competitive advantage: A competency-based perspective, Academy of Management Review; Oct 1994; 19, 4; pg. 699

[3] Peter Boxal, 1998, Achieving competitive advantage through Human resources strategy: towards a theory of industry dynamics Human Resource Management Review, Volume 8, Number 3, 1998, pages 265-288

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *