News

Mari Mengenal Allah (Ma’rifatullah)

formmit.org – Tatkala hati merasa resah dan gelisah hanya Allah lah yang mampu meredakannya. Tiada hari yang indah kecuali mengingat dan mengagungkan asmanya, berharap hati ini selalu bertawadhu’ dan berpasrah diri di kehadiratnya yang maha menguasai segalanya di muka bumi yang damai ini.

Sebagai pencipta, Allah adalah Tuhan yang Maha mengetahui, Ilmu-Nya Mahaluas tersebar di alam semesta, di samping masih ada pula yang tersimpan dalam perbendaharaan ilmu-Nya. Untuk menggambarkan keluasan ilmu Allah itu Al-Qur’an memberikan perumpamaan yang sangat indah, di antaranya: “Sekiranya pohon-pohon yang ada di bumi ini adalah pena dan lautan [menjadi pena] ditambah lagi dengan tujuh lautan sesudahnya [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habis [dituliskan] kalimat-kalimat Allah.” (Lukman: 27).

Acara kantin abu yang telah dilakukan oleh Formmit Tengah di Feng Chia University juga bertujuan untuk mengenal dan memperdalam keilmuan yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada kita. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah bagaimana kita saling mengingatkan sesama saudara seiman, bertemu untuk mempererat silaturrahim dan upgrade semangat.

Acara yang berlangsung sedikit terlambat tidak akan mempengaruhi esensi didalamnya. Pembahasan yang menarik disampaikan oleh sdr Fikri Ismail Soeyono.,S.E (Mahasiswa Bahasa Mandarin Feng Chia University) dengan mengangkat tema Ma’rifatullah.

Acara diawali dengan membaca ayat suci Al-Quran dan dilanjutkan dengan materi. Pembicara mengawali dengan menjabarkan kata Ma’rifah yg berasal dari kata ‘arafa – ya’rifu – ma’rifah yang berarti mengenal. Dengan demikian ma’rifatullah berarti usaha manusia untuk mengenal Allah baik wujud maupun sifat-sifat-Nya. Manusia sangat berkepentingan untuk mengetahui siapa penciptanya dan untuk apa ia diciptakan.

Karena itu, manusia pun mulai melakukan penelitian dan mencari-cari siapa gerangan Tuhannya. Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim tentu tidak akan membiarkan kita terkatung-katung tanpa adanya pembimbing yaitu utusan-utusan-Nya para nabi dan rasul yang akan menunjukkan kita ke jalan yang benar. Maka di antara manusia ada yang berhasil mengetahui Allah dan banyak pula yang tersesat, berjalan dengan angan-angannya sendiri. “Maka berpalinglah kamu dari orang yang telah berpaling dari peringatan Kami dan dia tidak menghendaki, kecuali kehidupan dunia. Itulah kesudahan pengetahuan mereka. Sungguh Tuhanmu lebih mengetahui orang yang telah sesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang yang dapat petunjuk”. (QS. An Najm: 29-30).

Pemateri menambahkan juga terkait pembiasaan Tafakur (Marifatullah) sebagai tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakkur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, Ulil Albaab. Dia SWT berfirman: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mencari bukti-bukti dari ayat-ayat-Nya, sebab ayat-ayat itu tidak bersumber kecuali dari Dzat yang Maha hidup (Hayyun), Maha berdiri (Qayyuum), Maha Kuasa (Qadiir), Maha Suci (Qudduus), Maha Selamat (Salaam), dan Dzat yang tidak butuh kepada sleuruh alam; sehingga iman kita peroleh didasarkan pada keyakinan bukan sekedar taklid. Selain itu Pembicara juga mengaitkan materi dengan teknologi yang ada dimasa sekarang.

Kebenaran sains dan kemajuan teknologi dapat digunakan untuk sarana kehidupan, dalam rangka melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Namun harus tetap memperhatikan batas-batas syar’i yang terdapat dalam ayat-ayat qauliyah. Penggunaan sains dan teknologi yang tidak mengindahkan batas-batas wahyu seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem dan keseimbangan alam. Bila ini yang terjadi, tentu bukan kemashlahatan yang akan dinikmati umat manusia. Sebaliknya yang terjadi selalu saja berupa kerusakan, tragedi, petaka, bencana, dan kehancuran. Semua petaka tersebut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

Selepas materi, acara yang diikuti 12 orang ini dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah. Sesi kedua berdasarkan agenda adalah penyampaian perkembangan atau laporan program kerja pada setiap divisi. Sehingga harapan kita bersama dengan adanya sesi sharing atau penyampaian program, bisa menjadi penyemangat juga pengingat saat langkah mulai penat. Ringkasan masukan saran maupun program apa yang akan dilaksanakan kedepannya diarsipkan oleh sekretaris untuk menjadi catatan catatan perkembangan Formmit Tengah dan menjadi bahan evaluasi bersama, baik kepengurusan ini maupun di masa mendatang. (Tim media/Aini)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *