AnnouncementsEventsInspiration @enIslamic LecturesNews

Goresan KeyBoard edisi: “Kajian Online: Pemuda Islam-Pemuda Qur’ani”

Oleh: Farid N.B. (Departement PSDM Utada)

Alhamdulillah telah terselenggara Kajian Online : Pemuda Islam-Pemuda Qur’ani. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Formmit Utara Dua dan Formmit Taiwan bekerjasama dengan Human Initiative. 

Narasumbernya adalah seorang Qori’ yang cukup mahsyur, Muzammil Hasballah -hafidzahullah-.

Beliau memulai dengan surah Al-Bayyinah, ayat 1-8.

Allah telah memberikan sangat banyak sekali contoh di dalam Al-Qur’an tentang pemuda. Tidak ada tempat yang buruk untuk para pemuda di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut pemuda sebagai Fataa.

Beliau menceritak beberapa contoh yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang dikisahkan pada ayat 13 surah Al-Kahfi,

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”

Kisah Al-Kahfi, kisah para pemuda yang lurus akidahnya. Namun dihadapakan dengan pemimpin yang diktator. Lalu mereka bersembunyi di dalam gua demi keamanannya, kemudian ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun qomariah atau 300 tahun syamsiah.

Selain kisah Al-Kahfi, pemuda lain yang dicontohkannya adalah kisah kekasih Allah, Ibrahim ‘alyhissalam, dalam memperjuangkan Tauhid hingga diharuskan untuk berhadapan dengan ayahnya sendiri. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, surah Ibrahim ayat 74-83.

إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

لَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Artinya:

74. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan?” Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

75. Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

76. Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inikah Tuhanku?” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

77. Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inikah Tuhanku?” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

78. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inikah Tuhanku?”, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

79. Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

80. Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantah aku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku?” Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

81. Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut (kepada Allah) karena menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia sendiri tidak menurunkan keterangan kepadamu. Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?”

82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.

83. Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Nabi Ibrahim ‘alayhissalam begitu teguh dalam memperjuangkan Tauhid, sehingga karena keteguhannya tersebut, raja yang saat itu memimpin, Raja Namrud, memerintahkan pasukannya untuk membakarnya, Kemudian turunlah firman Allah dalam surah Al-An-Biyaa’ ayat 69:

قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

            Beliau, Muzammil Hasballah, juga mengutip kisah Nabi Yusuf ‘alayhissalam. Bagaimana Yusuf ‘alayhissalam diuji dengan ketampanannya, sehingga para wanita Mesir kala itu jatuh hati, dan mencoba tuk menggodanya. Kisah ini diabadikan di dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 30.

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِى ٱلْمَدِينَةِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفْسِهِۦ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz menggoda anak mudanya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada anak mudanya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”.

Namun keteguhan iman Nabi Yusuf ‘alayhissalam tidak terperdaya dengan berbagai fitnah yang ada.

Belajar dari beberapa kisah sebelumnya, menurut beliau, Muzammil Hasballah, pemuda yang beriman adalah pemuda yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan pemuda yang terus berjuang, bukan hanya sekedar berbisnis untuk diri sendiri, tetapi juga memikirkan untuk menyelesaikan problematika banyak orang. Karena, masih menurut beliau, :

“Surga Allah terlalu luas untuk seorang diri, pemuda itu tidak hanya sholih, tapi muslih” walaupun selalu akan ada penentangnya, selalu ada cobaannya.

Sekali lagi beliau menekankan jika tidak ada tempat negatif untuk para pemuda di dalam Al-Qur’an, contohnya seperti yang ada dalam surah Ar-Rum ayat 54.

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْقَدِيرُ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”


Menurut beliau, dalam surah tersebut Allah memberi gambaran akan sebuah fase, yaitu:

  1. ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ (yang menciptakan dari keadaan lemah)
  2. جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ((kemudian) menjadikan yang lemah menjadi kuat)
  3. جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ((dan) menjadikan dari yang kuat menjadi lemah kembali dan beruban)

Pada fase ke dua, dari lemah menjadi kuat, yang dimaksudkan adalah masa muda. Allah subhaanahu wata’ala ingin generasi muda islam itu kuat, kuat ilmunya, kuat mentalnya, kuat dari segala sisi. Sehingga pemuda bukan lagi saatnya untuk bermain-main. Karena sejatinya, dalam Islam, ketika pemuda tersebut telah baligh, maka sudah seharusnya menanggung diri sendiri.

Contoh-contoh yang telah dipaparkan sebelumnya terdapat hikmah, di antaranya yaitu:

  1. Seorang pemuda tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga lain, sehingga tidak hanya shalih, tetapi juga muslih;
  2. Pemuda akan tetap takut kepada Allah, meskipun terpadat kemaksiatan di hadapannya;
  3. Pemuda adalah yang selalu mengutakan akhiratnya, sehingga ia akan terus memohon kepada Allah untuk diteguhkan dalam perkara akhirat.

Beliau mengutip sebuah doa, yang dipotong dari sebuah hadist yang diriwayatkan dari attirmidzi no. 3502, dan an-nasa’i 106.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Allahumma laa taj’aliddunya akbar, hamminaa, wa laa mablag ‘ilminaa

“ya Allah janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami’

Beliau juga mencontohkan kisah-kisah para ilmuawan muslim terdahulu menuntut ilmu demi keridhaan Allah, mendahulukan ilmu agama sebelum ilmu yang lainya. Cukup berbeda dengan yang saat ini, sehingga yang dipikirkan hanyalah dunia semata.

Beliau menceritakan kisah-kisah ilmuwan muslim yang penemuan-penemuannya dipakai hingga saat ini dalam berbagai bidang, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, dan sebagainya. Para ilmuwan-ilmuwan muslim tersebut sukses membangun peradaban. Peradaban islam itu penting, peradaban islam itu penting, olehnya itu arahkan anak-anak untuk menjadi ulama terlebih dahulu, karena ulama adalah pewaris para nabi. (العلماء ورثة الانبياء) dan sesungguhnya yang takut pada Allah adalah ulama (إنما يخشى الله من عباده العلماء).

Menurut beliau, Allah akan mengajarkan ilmu pengetahuan ketika semuanya telah baik. Beliau mengutip QS. Al-Baqarah ayat 282.

وَاتَّقُوا اللَّهَ  وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

Para ulama terdahulu juga mengutamakan yakin terlebih dahulu, yakin terhadap wahyu. Karena Al-Qur’an adalah sebagaimana yang di tuliskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 2.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Selanjutnya beliau mengisahkan periwayat hadist yang masih muda yang berjumlah 7 orang, yaitu:

  1. Abu Hurairah (5374 hadits)
  2. Abdullah ibn Umar (2630 hadits)
  3. Anas ibn Malik (2286 hadits)
  4. Aisyah binti Abu Bakr (2210 hadits)
  5. Abdullah ibn Abbas (1660 hadits)
  6. Jabir ibn Abdillah (1540 hadits)
  7. Abu Sa’id Al Khudri (1170 hadits)

Beliau menceritakan kisah Abdullah bin Abbas radiayallahu ‘anh, bagaimana nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mendoakan beliau sebagaimana yang dinukilkan dalam bukhari 3756.

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ
“Ya Allah, Ajarkan hikmah hikmah padanya”

Dalam riwayat lain oleh Ahmad 328,

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajrakanlah ia ilmu tafsir”

Ibn Abbas, adalah perawi yang sangat muda namun memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia pun mampu mendebat para khawarij sehingga kembali kepada jalan yang lurus.

Beliau menkekankan tentang pokok keimanan, karena tanpa iman, syariat adalah beban. Sehingga harus mengedepankan Iman, sebelum Qur’an. Adab sebelum Ilmu.

Beliau juga mengisahkan kisah Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah yang memimpin walaupun hanya beberapa tahun saja, namun mampu mengangkat kejayaan. Menurutnya, semua itu karena berlandaskan kurikulum nubuwah.

Sebagaimana dalam QS. Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”

Namun sebelumnya, menurut beliau, terlebih dahulu pemuda harus bisa memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarganya, memperbaiki sekitar, lalu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, sehingga dipahami dengan baik, lalu mempelajari sejarah-sejarahnya, karena sepertiga dari Al-Qur’an adalah sejarah.

Pertanyaan:

  1. Bagaiamana tanggapan dengan pernyataan “selagi umur kita masih muda, ya masih bisa berleha-leha. Beriman ketika sudah tua”

Jawaban:

Ajal tidak menunggu usia, ajal bukan nomor urut, tapi nomor cabut. Maka pemuda harus berjuang. Beliau mengutip surah Al-Mulk ayat 2

لَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Perbaiki diri, baru berdakwah pada masyarakat, kemudian berdakwah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Cita-cita kita akhirat. Memang berat, namun Istirahatlah ketika telah sampai di surga.

Demikian catatan ini, semoga bermanfaat. Penyusun menyadari keterbatasan yang dimiliki, olehnya itu apabila terdapat kekeliruan dalam tulisan, maka penyusun memohon maaf, dan mohon untuk disampaikan secara langsung kepada penyusun demi kesempurnaan tulisan.

Allahu ‘a’lam bisshowaab.

Sabtu 03 April 2021.

Al-Faqir

Farid N.B.

Kritik dan Saran:

Line ID           : faridnb

Email               :faridnurbahti01@gmail.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *