Halal Food

Fakta-fakta Ilmiah tentang Babi dan Daging Babi

Taenia solium. Nama yang “cantik”, bukan? Namun tidak demikian dengan “tampilan fisik” cestoda ini. Parasit ini memiliki skoleks, leher dan strobila yang terdiri dari 800-1000 ruas proglotid. Selain itu, T. solium memiliki 4 sucker yang siap ditempelkan di dinding usus dan sistem pencernaan korbannya. Ukuran normal cacing ini adalah 2-3 meter, namun bisa mencapai 50 meter dalam kasus khusus.

Apa yang akan terjadi jika tubuh kita kedapatan “menyimpan” T. solium? Larvanya dapat menyebabkan sistiserkosis atau infeksi jaringan tubuh. Efeknya akan sangat berbeda di tiap bagian tubuh. Yang paling mengerikan adalah jika larva cacing menempel pada jaringan otak (medula spinalis) karena dapat menyebabkan epilepsi, meningo-ensefalitis dan hidrosefalus internus.

 

2. Kantong urine (urine = air seni) babi sering bocor sehingga urine babi akan selalu merembes ke dagingnya.

Tidak mengherankan jika kemudian kita dapat mencium aroma “pesing” khas air seni di daging babi.

3.  Kadar asam urat (uric acid) yang terdapat di daging babi sangat tinggi.

Asam urat (C5H4N4O3) adalah salah satu komponen yang terbentuk saat tubuh memecah nukleotida purin. Tingginya kadar asam urat di dalam darah (> 8mg/dL) dapat menyebabkan penyakit “gout” atau “pirai” atau “peradangan sendi kronis”.

Mengapa kadar asam urat di dalam babi/dagingnya sangat tinggi? Karena tubuh babi memiliki mekanisme ekskresi/pemecahan asam urat yang berbeda. Berbanding terbalik dengan mekanisme ekskresi/pemecahan asam urat pada manusia. Pada babi, 98% asam urat tertahan di tubuhnya, hanya 2 % saja yang disekresikan. Sedangkan pada manusia, 98%nya dikeluarkan lewat urine, sisanya disimpan/dipecah lewat sistem metabolisme tubuh. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya fakta ini.

4.  Kemiripan DNA antara babi dengan manusia.

Pernah mendengar tentang xenotransplantation? Istilah tersebut berarti transplantasi sel hidup, jaringan atau organ tubuh salah satu spesies ke spesies lain, contohnya yang jamak diaplikasikan adalah dari babi ke manusia. Di jurnal ini(2) malah disebutkan bahwa babi merupakan kandidat donor organ, sel dan jaringan nomor wahid dengan alasan jumlahnya yang banyak dan mudah berkembang biak. Walaupun masih terdapat kontroversi seputar metode transplantasi ini terkait dengan isu keagamaan dan medis, namun permintaan pasar yang sangat besar membuat popularitas metode ini melejit bak roket. Isu agama tentu saja terkait dengan syari’at Islam yang melarang “pemanfaatan” babi dan turunan-turunannya dalam hal apapun. Mengenai isu medis, di salah satu jurnal keluaran AORN (The Association of periOperative Registered Nurses) edisi September 1999, disebutkan bahwa resipien dihadapkan pada risiko infeksi yang tinggi akibat terapi immunosuppression yang menyebabkan resipien mudah diserang virus dan penyebab infeksi lain. Selain itu, risiko infeksi tinggi juga dapat berasal dari organ hewan yang kemungkinan menyimpan mikroorganisme patogen, dalam kasus babi adalah PERV (Porcine Endogenous Retro Virus).

Kembali ke topik. Dari hasil penelitian para scientist, terindikasi bahwa kesuksesan transplantasi ditentukan oleh kedekatan genetik antara spesies pendonor dan penerima. Selama ini, xenotransplantation dari babi ke manusia telah sukses dilakukan. Hal ini berarti memang susunan DNA babi dan manusia tidak jauh berbeda.

Referensi :

  1. Disarikan dari Kajian Seri Halalan Thayyiban (SEHAT) oleh Ust. Nanung Danar Dono di Radio Pengajian Dot Com.
  2. Journal of Philosophy and Ethics in Health Care and Medicine, No.1, pp.11-26, July 2006.
  3. The Journal of Clinical Investigation. Volume 97, Number 12, June 1996, 2911–2916.

[by : Bunga Primasari]

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *