|
|
Sains & Teknologi
|
Buah Hati Datang Berkat Madu Eksklusif |
|
|
|
|
Wednesday, 16 May 2007 |
|
Kebahagiaan langsung menghampiri istri Fachrur Rozi itu waktu memeriksakan diri ke Klinik Yasmin Rumahsakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. 'Ibu positif hamil!' kata dr Andon Hestiantoro, SpOG(K). Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sejak setahun terakhir merawat Ernita dan Rozi itu langsung merekomendasikan calon ibu untuk banyak istirahat. Pada usia kehamilan rawan-usia Ernita 39 tahun-kandungan harus dijaga ketat. Tanpa banyak pertimbangan, akuntan itu langsung mengambil cuti di luar tanggungan selama 5 bulan. Tes Kabar bahagia pada awal Januari 2007 itu jawaban dari penantian panjang pasangan yang menikah pada 1995 itu. Sampai 2 tahun pernikahan belum ada tanda-tanda Ernita hamil. Menurut dr H Taufik Jamaan, SpOG-dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumahsakit Bunda Jakarta Pusat, 3 hal yang perlu dianalisis pada pasangan yang sulit memiliki keturunan yakni siklus ovulasi, kualitas sperma, dan ovum. Siklus ovulasi berkaitan dengan siklus haid. 'Jika siklus haid tidak teratur, artinya ovulasi tidak berjalan normal. Kualitas ovum dicek melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dari USG diketahui ukuran sel telur matang. Lazimnya berukuran 18-20 mm. Jika kurang, artinya telur yang terovulasi belum matang sehingga pembuahan oleh sperma tidak akan berhasil. Bila siklus dan kualitas ovum normal, perlu pengecekan saluran telur untuk melihat ada tidaknya penyumbatan. Penyumbatan disebabkan infeksi, radang panggul, atau keputihan kronis. Pada laki-laki, analisis sperma dibutuhkan untuk mengecek jumlah dan kualitasnya. 'Pada kasus infertilitas, 70% disebabkan oleh faktor laki-laki,' tutur Taufik. Produksi sperma normal 20-juta sel/ml. Dari jumlah itu, 50% sperma mesti bergerak normal, minimal 30% berbentuk normal. |
|
Read more...
|
|
|
Asma Hilang Terempas Susu Kambing |
|
|
|
|
Friday, 20 April 2007 |
|
Ida Rahmawati panik bukan kepalang ketika wajah buah hatinya Sekar Ayu Dyah Larasati membiru. Mata bocah 5 tahun itu terpejam. Napasnya tersengal-sengal seperti tercekik. Berkali-kali Ida menepuk-nepuk pipi anaknya, tetapi Dyah tak merespon. Ia bergegas membawa Dyah ke Rumah Sakit Usada Insani, Tangerang, Provinsi Banten. Diagnosis dokter, siswa Taman Kanak-kanak itu mengidap asma. Bayangan 5 tahun silam melintas di benak Ida Rahmawati. Ia ingat persis, 'pada umur 6 bulan, Dyah kerap batuk-batuk dari jam 02.00 sampai 04.00,' ujar Ida. Dokter hanya meresepkan sirop obat batuk dan antibiotik. Beberapa bulan berselang, timbul gatal-gatal pada kulit. Ia pun kembali memeriksakan Dyah ke dokter. Hasilnya, Dyah divonis alergi susu sapi. Oleh karena itu Ida mengganti susu bubuk sapi dengan susu bubuk kedelai. Penggantian itu memang menghilangkan gatal-gatal pada kulit Dyah. Namun batuk pada malam hari tak kunjung reda. Bahkan setahun kemudian, batuknya semakin parah. Napas tersengal-sengal seperti tercekik. Ida Rahmawati menyambangi dokter lain untuk mengetahui penyebab batuk berkepanjangan itu. Saat itulah ia tahu, Dyah mengidap asma karena alergi susu sapi. Sejak diagnosis asma itulah, Dyah yang saat itu berusia 2,5 tahun mengkonsumsi puyer antialergi 6 kali sehari. Kebiasaan itu berlangsung hingga Dyah berusia 7 tahun. Untuk memberikan pertolongan segera, Ida menyiapkan alat bantu pernapasan nebulizer dan tabung oksigen ukuran 80 cm. |
|
Read more...
|
|
|
Toyger, Kucing Bernuansa Harimau |
|
|
|
|
Wednesday, 04 April 2007 |
|
Sekilas ia mirip anak harimau karena belang-belang tubuhnya yang bergaris hitam di atas dasar coklat. Namun, sebenarnya ia adalah seekor kucing hibrida baru yang diberi nama Toyger. Toyger sudah didaftarkan ke Asosiasi Kucing Internasional (TICA) sejak tahun 1993. Mulai bulan Mei tahun ini, kucing tersebut akan bergabung dengan kucing-kucing turunan galur murni dari jensi yang sudah dikenal seperti jenis Persia atau Siam. Toyger pun bisa secara resmi ikut dalam kontes tahunan yang diadakan TICA. Kecing jenis ini pertamakali dikembangkan oleh Judy Sudgen. Ia berharap warna kucing yang menyeruapai harimau akan menginspirasi banyak orang untuk peduli terhadap usaha pelestarian harimau. "Kami memanfaatkan kecintaan orang terhadap kucing untuk membantu konservasi harimau," ujarnya. Saat ini, toyger masih terus dikembangkan agar dapat benar-benar menyerupai harimau dalam beberapa tahun ke depan.  |
|
|
obat tradisional Hepatitis |
|
|
|
|
Monday, 02 April 2007 |
|
Elis resah membayangkan penderitaan yang akan dilalui anaknya jika kelak terlahir ke dunia. Maklum, ia tahu betul betapa perihnya nestapa akibat ganyangan virus hepatitis yang ia alami sejak 1998. Nestapa itu bermula tatkala Elis mengeluh sakit tak terperi di ulu hati. Ia yang saat itu berusia 25 tahun menduga dirinya sakit mag. 'Makan saya memang tidak teratur,' katanya. Kesibukan membantu suami mengelola toko bahan bangunan membuatnya berpaling dari pola hidup sehat. Perih di ulu hati itu kian menjadi-jadi. Rahmat Afandi, suami Elis, segera memboyong sang istri ke dokter spesialis penyakit dalam di daerah Tomang, Jakarta Barat. Hasil diagnosis dokter, Elis menderita mag kronis. Dokter pun memberikan obat untuk mengurangi asam lambung berlebih-penyebab mag. Setelah mengkonsumsi obat, kondisi Elis kembali pulih. Kemoterapi Beberapa waktu kemudian rasa sakit kembali menyambangi ulu hati Elis. Kali ini kondisinya bertambah buruk. Perut kian membuncit. 'Seperti hamil 7 bulan,' ujarnya. Sekujur tubuh pucat dan lunglai. Bila telapak tangan ditekan dengan jari, tak kembali memerah. Keduanya dingin. Khawatir kondisinya kian memburuk, Rahmat pun segera bertolak ke RS Pelni, Jakarta Pusat. Di sana Elis dirawat di instalasi gawat darurat. Setelah darah diperiksa dan perutnya dipindai dengan ultrasonografi (USG), teka-teki penyebab sakit Elis akhirnya terjawab. Ia terjangkit virus hepatitis B. Kadar HVDNA positif pada darah mencapai 1.527 pg/ml. Itu menunjukkan kadar virus hepatitis yang bersarang di aliran darah. Hasil USG menunjukkan, separuh hatinya telah mengeras alias sirosis. Elis tak menyangka dirinya berada di ambang maut. Bayangan ajal sempat melintas di pikirannya yang sedang galau. Namun, Elis tak mau pasrah begitu saja menghadapi vonis dokter. Ia pun menanyakan peluang kesembuhan bakal diraih. 'Kami hanya bisa berusaha. Perkara kesembuhan itu ada di tangan Tuhan,' kata Elis menirukan ucapan dokter ketika itu. Dokter menyarankan agar Elis menjalani terapi 3TC, salah satu terapi untuk menghalau virus hepatitis yang mengganas di tubuhnya. Ia mesti rutin mengkonsumsi obat berupa kapsul sekali sehari dan tidak boleh terlewat. Ia juga mesti rutin diperiksa setiap bulan untuk memantau perkembangan virus. Purnama demi purnama ia lalui. Tak terasa dua tahun ia sudah menjalani terapi. Namun, alamat kesembuhan tak jua tampak. Jumlah virus dalam darah berfluktuasi. Suatu kali jumlah virus anjlok hingga 32 pg/ml. Tak lama kemudian jumlahnya kembali melonjak. Melihat hasil yang tidak stabil, dokter menyimpulkan terapi itu gagal. Padahal, pada sebagian besar pasien hepatitis B, terapi 3TC tergolong tokcer. Keberhasilan terapi tergantung kecocokan dengan tubuh si pasien. Kegagalan itu mungkin disebabkan tubuh menolak reaksi obat,' kata Elis mengulang ucapan dokter. |
|
Read more...
|
|
|
Teripang sang Penumpas Kista |
|
|
|
|
Wednesday, 28 March 2007 |
|
Kenangan pahit itu bermula pada medio 2006. Ketika itu Diah dan suami, Cahyo, sepakat menambah keturunan setelah Angela-anak pertamanya-tumbuh semakin besar dan ingin memiliki seorang adik. Setelah berkonsultasi dengan ahli ginekologi dan obstetri, Diah diharuskan mengkonsumsi obat penyubur rahim untuk mempercepat kehamilan. Obat itu diminum satu tablet sehari. Betapa girangnya Diah, ketika siklus menstruasi yang seharusnya datang sebulan kemudian, tak juga kunjung tiba. Ia berhati-hati menjaga perut dari benturan apa pun. Namun, kenyataan berkata lain. Tiga hari setelah siklus menstruasi lewat, Diah jatuh dari tempat tidur. Flek kecokelatan mengalir dari rahimnya. Takut terjadi hal yang tak diinginkan, ia langsung berkonsultasi ke ahli medis. Urine diperiksa untuk mengetes kehamilan. Hasilnya negatif, kata wanita kelahiran 4 Januari 1975 itu.  |
|
Read more...
|
|
| |
|