Safar dalam Islam (Wajibnya Sholat Jumat bagi Mereka yang TIDAK dalam Keadaan Safar)

Posted on Leave a commentPosted in Fiqh

Ringkasan dari buku Pedoman Safar, doa bepergian, tuntunan shalat jama’ dan qashar, serta adab-adab safar.

‎1. Definisi SAFAR : perjalanan dalam sehari semalam, sejauh 2 marhalah, jaraknya sekitar 80 KM atau lebih. Ketika bepergian harus membawa bekal, pakaian ganti dan perlengkapan lainnya, sejarak itu, juga disebut Safar.

Seorang MUSAFIR hanya boleh mengQashar shalat setelah ia berada di luar kampungnya. Rasulullah SAW tidak mengQashar shalat, kecuali setelah di luar Madinah.

2. Sholat yang dapat diJama’ dan diQashar. Nabi SAW melaksanakan shalat Zhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, ‘Isya 2 rakaat, di dalam safarnya, hingga beliau kembali. Adapun Maghrib, Beliau SAW melaksanakan 3 rakaat, baik ketika Safar maupun Muqim. Demikian juga sholat Shubuh, Beliau SAW menyempurnakan 2 rakaat.

Sholat Sunnah Rawatib. Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan sholat sunnah 2 rakaat sebelum Shubuh. Adapun sholat sunnah rawatib Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya, beliau SAW tinggalkan.

Nabi SAW tetap melakukan Tahajjud di malam hari dan Witir. Demikian pula sholat sunnah mutlak dan memiliki sebab, seperti, Dhuha, sunnah Wudhu, sunnah Gerhana, Tahiyyatul Masjid, dan sujud Tilawah.

4. Nabi SAW bermuqim (tinggal menetap) ketika haji Wada’ selama 4 hari, dan beliau mengQashar shalat. Di hari kelima beliau berangkat ke Mina dan ‘Arafah. Riwayat tsb menunjukkan bolehnya mengQashar bagi orang yg berniat muqim (tinggal menetap) dalam safarnya sebanyak 4 hari atau kurang dari itu.

5. Ketika Rasulullah SAW tinggal menetap selama 19 hari ketika pembebasan kota Mekkah, dan 20 hari ketika perang Tabuk, maka perlu dipahami bahwa Beliau SAW tidak berniat untuk bermuqim, karena TIDAK TAHU kapan perang berakhir. Namun jika kita berniat untuk bermuqim (tinggal menetap) selama lebih dari 4 hari, maka wajib menyempurnakan rakaat shalat.

6. Jika seorang Musafir menjadi imam maka ia melaksanakan shalat 2 rakaat, lalu ia salam, sedangkan para makmum yang muqim harus menyempurnakan shalat mereka menjadi 4 rakaat.

7. Jika Musafir menjadi makmum di belakang imam yang muqim, maka ia wajib menyempurnakan rakaat shalat bersama imam. Dan jika si makmum musafir ini berniat untuk menjama’ maka ia boleh langsung shalat Ashar diQashar.

8. Orang yang rutin mengadakan perjalanan, seperti driver/nahkoda/pilot, adalah termasuk Musafir, boleh mengQashar dan menjama’ shalat.

9. Keluarga yang nomaden, yang sering berpindah-pindah, tanpa niat bermuqim (tinggal menetap) adalah termasuk Musafir.

10. Musafir (orang yang melakukan perjalanan jarak 80 KM atau lebih) mendapat keringanan: 1)mengusap 2 khuf* selama 3 hari 3 malam. 2)mengQashar shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. 3)menjama’ sholat Zhuhur & Ashar, menjama’ Maghrib & ‘Isya’. 4)berbuka pada bulan Ramadhan.

*syarat ketentuan fiqh berlaku.

Hukum Laki-laki Memandang Wanita

Posted on Leave a commentPosted in Fiqh

Allah menciptakan seluruh makhluk hidup berpasang-pasangan, bahkan menciptakan alam semesta ini pun berpasang-pasangan. Sebagaimana firman-Nya: “Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin: 36)

Mengenal Tiga Tanda Kematian

Posted on Leave a commentPosted in Fiqh

Mengenal Tiga Tanda Kematian

Oleh Imam Nur Suharno

Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya’kub AS. Suatu ketika Nabi Ya’kub berkata kepada malaikat maut. “Aku menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan kita.”

“Apakah itu?” tanya malaikat maut. “Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku.” Malaikat maut berkata, “Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku.” Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya’kub. Kemudian, Nabi Ya’kub bertanya, “Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”