About Islam

Uniknya awal Ramadhan di Taipei

Posted on

Marhaban ya Ramadhan..

Di Taipei, Taiwan, awal ramadhan ditetapkan oleh Imam Masjid Besar Taipei (Taipei Grand Mosque) bersama team-nya[1]Team tersebut biasanya juga melakukan observasi hilal awal Ramadhan tiap tahun. Pengamatan hilal dilakukan di dua tempat, di gedung Taipei 101 yang terkenal itu dan di pantai di daerah Tamsui. Bila hilal tidak tampak, maka keputusannya akan menunggu pemerintah Arab Saudi, apakah besok jadi puasa Ramadhan atau tidak.

Karena adanya perbedaan lokasi bujur antara Arab Saudi dan Taiwan, maka biasanya keputusan awal Ramadhan baru bisa diketahui antara jam 1:00-2:00 dini hari untuk kasus tidak terlihatnya hilal di Taipei. Itu karena ada selisih waktu 5 jam saat matahari terbenam antara Saudi (GMT+3) dan Taiwan (GMT+8)[2]. Cukup unik, gabungan antara hisab Umul Quro, Rukyat lokal, dan Rukyat Arab Saudi.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya..

Perlu juga diketahui bahwa hubungan antara pemerintah Arab Saudi dengan muslim Taiwan cukup erat, bahkan mereka juga mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah Arab Saudi selain tentunya dari pemerintah Taiwan sendiri. Selain bantuan sosial ke masjid-masjid, muslim Taiwan juga mendapatkan kuota haji gratis tiap tahun atas kerjasama antara pemerintah Taiwan dan Arab Saudi.

Marhaban ya Ramadhan…

Posisi astronomis bulan-bumi-matahari awal Ramadhan 1433H saat matahari tenggelam di Taipei pada tanggal 19 Juli 2012 mendatang juga cukup unik. Di Taipei, perhitungan dengan Kriteria Wujudul Hilal (WH)[3] dan Imkan Rukyat (IR)[4] akan menghasilkan awal puasa pada hari yang sama yaitu 21 Juli 2012, sedangkan kriteria Ijtimak Qoblal Ghurub (IQG)[5] akan menghasilkan awal puasa tanggal 20 Juli 2012. Jadi, situasinya sangat berbeda bila dibandingkan dengan situasi di Indonesia yang riuh rendah. Disini kriteria Wujudul Hilal dan Imkan Rukyat akur, makmur, aman, tentram, damai, sakinah , mawadah, dan warohmah.

About Islam

Gadis Kecil yang Memegang Teguh Prinsipnya, Amina

Posted on

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 siang. Langkah-langkah kaki menuju SMP Guting sedikit menguras fisik kami.

Di sana, kami menemui satu orang pelajar, muslimah. Ya, hanya satu orang. Namanya Amina Sui, dan ia akan sedikit bercerita tentang kisahnya.

Kulit putihnya terbalut jilbab dengan warna biru yang sangat cocok dengan warna seragam sekolahnya. Amina, begitu ia biasa disapa oleh teman-teman dekatnya. Sosok yang betul-betul berpenampilan berbeda dibandingkan pelajar perempuan lainnya di kota Taipei ini. Ia mengenakan jilbab.

Dengan penampilannya yang berbeda itu tak jarang ia sering menjadi bahan tertawaan para pelajar lainnya. Bahkan beberapa anak sempat berencana akan melepaskan jilbab Amina. Akan tetapi itu mulanya. Lantas bagaimana caranya hingga ia dapat menginisiasi terselenggaranya acara pengenalan kebudayaan Islam di sekolahnya itu?

Berikut petikan wawancara yang dilakukan oleh kami.

About Islam

Ingat Mati

Posted on

Kematian merupakan persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah, “Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.” Yang dimaksud dengan kematian dalam pembahasan berikut ini adalah al maut al kubra, sedangkan al maut ash shughra sebagaimana dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar : 42)[1]

About Islam

Shalawat Atas Nabi SAW

Posted on

Oleh : Ust. KH. Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.