Cerpen

Sumirat Musim Dingin

Posted on

 

[Cerpen karya Yuherina Gusman]

“Musim dingin tahun ini benar-benar gila! Sama seperti awal kedatangan ku ke sini.” Zoe mengeluh seraya berkali-kali memperbaiki posisi syalnya. Tampaknya wol tebal yang terjalin indah tersebut tidak mampu menahan laju angin menembus kulitnya.

“Pakai ini kayaknya enak…” Zoe memegang jilbabku, yang terbuat dari katun tebal. Hohoho… belum tau dia, jilbab itu memang multi fungsi. Selain untuk menutup aurat jilbab berfungsi sebagai pelindung dari matahari di musim panas dan penghalau dingin di musim hujan. Bahkan juga bisa buat lap tangan kalau habis cuci tangan tapi stok tissue di kamar mandi sudah habis. Ops… 😛

“Emang kamu datang ke kampus ini sejak kapan?” tanyaku kemudian sembari tetap fokus mengetikkan beberapa draft kerjaan Zoe. Zoe merupakan asisten professor yang menjadi pembimbingku, sejak bulan kemarin aku diwajibkan untuk setor muka ke Sex Center. Wow… serem ya namanya, hehehe… nama yang benar seharusnya “Sexualities Research Center” namun anak-anak suka menyingkatnya menjadi Sex Center. Pusat penelitian yang menyebabkan kampusku terkenal dengan gender study nya. Konon kabarnya siy terbaik di Taiwan.

Kewajiban untuk mengisi absen ke sana bermula dari mentoknya thesis-ku yang tidak ada kemajuan  berarti sejak tiga bulan terakhir. Untuk memastikan aku benar-benar berkonsentrasi mengerjakan thesis maka ibu prof tersayang memintaku untuk mengerjakannya di Sex Center, sehingga dia bisa mengawasi secara langsung bahkan Zoe asisten kepercayaannya bisa mengawasiku selama lebih dari delapan jam sehari. Tentunya duduk dan hanya mengerjakan thesis merupakan pekerjaan yang sangat membosankan. Maka sebagai selingan, sering kali ku memaksa Zoe untuk memberikan pekerjaan yang tidak usah pakai mikir. Hehehe… jadilah aku sebagai sekretaris pribadi Zoe, menggetikkan draft-draft terjemahannya atau meng-scan-kan beberapa bahan kuliah yang diasisteninya. Asal jangan disuruh bersih-bersih ruangan dan bikin kopi aja. Lagian proyek penerjemahan yang sedang digarap Zoe adalah mengenai sepak terjang sebuah NGO yang bergerak dalam bidang ketenagakerjaan di Taiwan, khususnya pemberdayaan pekerja migran. So… hitung-hitung baca bahan dan cari pengembangan ide buat thesis juga.

“Aku pindah ke Zhong Li sejak tahun 2005. Dan katanya beberapa puluh tahun sebelumnya salju tidak hanya bisa ditemukan di puncak gunung, tapi selama musim dingin, di utara Taiwan juga turun salju, walau tipis sekali.”

“Hah salju!” sebagai makhluk tropis, aku sangat antusias sekali dengan salju. Warnanya yang putih… terlihat lembut dan membekukan benar-benar sebuah harmonisasi alam yang begitu indah.

Dui a… tapi itu dulu…“ jawab Zoe datar. Kembali memutar-mutar syalnya dan berkali-kali menyetel pemanas  yang ada diruangan.

“Kamu punya jilbab banyakkan… Kasih aku satu bagaimana? Dingin banget nih!” lagi-lagi Zoe mengeluh dingin, pake acara minta-minta jilbab pula! Ku balas permintaan Zoe dengan senyuman geli, hahaha… Tidak terbayang saja Zoe yang dalam istilah ilmiahnya terlihat seperti seorang Butch (wanita yang berpenampilan seperti pria) lalu tiba-tiba menggunakan jilbab yang sarat dengan stereotype feminin.

Cerpen

Taipei, Hujan dan Mr. Han

Posted on

[Cerpen karya Jenny Ervina]

Layar dinding profil dalam account facebook-ku ditandai sebuah poster bertuliskan informasi mengenai kegiatan yang akan diadakan oleh KMIT (Keluarga Muslim Indonesia Taiwan), bekerja sama dengan IC3T (Indonesian Committee for Science and Technology).

Dalam poster itu terpampang sebuah foto seorang lelaki berpenampilan santai, tapi matang. Bersejajar dengan fotonya tertulis bahwa lelaki itu yang akan menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut. Di baris bawahnya lagi, tercantum beberapa nama sebagai contact person dari kalangan mahasiswa.

Cluster discussion Engineering dengan tema “An Introduction to Semiconductor Testing” ini difokuskan untuk pengujian device dengan berbagai technology. Sehingga kelak peserta bisa mengembangkannya di tanah air. Dan sebagai informasi tambahan, teman yang menandai poster tersebut yang kebetulan sudah lama aku kenal di dunia maya, menuliskan bahwa kegiatan diskusi ini berlangsung di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), tepatnya di Taipei. Yang berarti memakan waktu sekitar dua jam perjalanan dari tempatku bekerja, yaitu Hsinchu.

Organisasi-organisasi yang tersebar di Taiwan, khususnya yang dibentuk oleh mahasiswa Indonesia maupun para buruh migran, memang tidak jarang mengadakan kegiatan positif seperti ini. Dan itu sebagai bagian dari bukti bahwa kami, warga Negara Indonesia yang sedang berjuang di negeri asing juga secara tidak langsung turut serta dalam pembangunan Indonesia secara keseluruhan.

Dan aku memang bukan siapa-siapa di negeri ini. Tidak juga tertarik untuk ikut bergabung di sebuah kepengurusan organisasi ketika seorang teman mengompori. Apalagi rajin mengikuti setiap kegiatan yang kadang dilaksanakan di luar daerah tempatku bekerja. Kalau waktu bisa menjangkau perjalanan, aku pergi. Tapi kalau tidak, maka aku hanya menunggu informasi lanjutan yang akan dengan mudah aku dapatkan di sebuah website atau jejaring sosial.

Maka dengan sedikit pertimbangan, lamat-lamat kuperhatikan poster tersebut beserta informasi lainnya. Meski tema yang akan dibicarakan sangat jauh dari batas nalarku, tapi aku yakin, dengan mengikuti kegiatan tersebut aku akan banyak mendapatkan hikmah. Barangkali akan terjalin sebuah tali silaturahmi yang indah, atau secuil ilmu yang nanti bisa kucerna sebagai bahan tulisan di catatan dinding facebook. Atau anggap saja sekalian jalan-jalan keliling Taipei.

Ah! Masih ada seminggu. Berarti masih ada waktu untuk mengajukan permintaan libur kepada majikan. Ini moment yang tepat, dan aku tidak ingin melewatinya begitu saja. Dan sebelum kututup layar laptop, kusempatkan untuk mencatat nama-nama berserta nomor yang bisa dihubungi dalam jurnal kecilku. Aku harus pergi!

Cerpen

Persembahan untuk INA

Posted on

[Cerpen karya Jenny Ervina]

Dengan sangat hati-hati Ina memapahku menuju pembaringan. Setengah menopang tubuhku yang beratnya mungkin dua kali lipat dari tubuhnya. Gadis manis berkebangsaan Indonesia yang baru aku ambil dari agency dua bulan yang lalu itu sengaja aku pekerjakakan sebagai perawat untuk menemaniku di usia yang sudah sangat senja ini.

Satu-satu obat beserta segelas air putih ia persiapkan di atas meja. Dan apabila jam sudah menunjukan tepat pada waktunya, maka dengan tanganya yang kasar Ina akan memberikannya padaku. Setelah itu akupun akan tertidur.

Tapi tak jarang kadang aku terbangun di tengah malam dan mengganggu kelelapan tidur Ina. Menyuruhnya membantuku menggantikan pampers yang sudah basah, atau hanya sekedar memijat kedua kakiku yang tak lagi bertenaga.

Sungguh, sebenarnya aku tidak tega melihat Ina terkantuk-kantuk demi melayaniku. Tapi apa boleh buat, toh aku memang membutuhkan keberadaannya. Sebagai pengganti anak-anakku yang sudah tidak lagi menghiraukanku.

Menurut tanggalan China, usiaku tahun ini sudah mencapai 87. Jelas bukan angka yang sedikit, mengingat banyaknya penyakit yang bersarang memenuhi tubuhku. Diabetes, darah tinggi, mata rabun, belum lagi penyakit jantung yang setiap saat akan dengan mudah merenggut nyawaku. Aku termasuk orang yang beruntung karena bisa melewati tahun demi tahun, sehingga bisa bertahan sampai saat ini.

Mengandalkan gaji pension yang tidak seberapa banyaknya, aku menghidupi kebutuhanku bersama Ina. Aku tidak terlalu suka menggantungkan diri kepada kedua anakku yang memang sudah tidak tinggal lagi bersamaku semenjak istriku meninggal. Mereka lebih senang menjalani kehidupan mereka masing-masing dan melupakan keberadaanku. Bagiku tidak masalah selama mereka tidak mengirimku ke panti jompo.

Ah, sekarang aku memang sudah renta. Tapi ingatanku masih mampu merekam banyak kenangan tentang masa lalu. Bagaimana gagahnya aku berdasi dan menjadi kepercayaan di perusahaan. Hilir mudik ke luar negeri melewati liburan musim dingin bersama istri dan anak-anak. Seolah Taiwan sebagai tempat awal kelahiranku sudah tidak lagi menjelma tempat menyenangkan.

Sampai akhirnya waktu merenggut semuanya dariku. Istriku meninggal, akupun sakit-sakitan. Sementara kekayaan yang dulu melimpah ruah perlahan digerogoti anak-anaku. Tinggallah aku sendiri di rumah yang tidak terlalu besar ini bersama Ina.

Cerpen

Launching Bilik Sastra KMIT

Posted on

  Menulis merupakan bagian dari menorehkan sejarah! Menulis merupakan terapi dalam menelurkan ide-ide yang bersarang diotak dan terkadang tidak menemukan kanal penyalurnya. Menulis merupakan wahana berbagi dan bermain dengan imajinasi. Menulis memberikan kesempatan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa diucapkan. Menulis bisa menjadi senjata perjuangan yang jauh lebih ampuh dari senjata api manapun. Lalu mengapa tidak menulis? […]