Buku

Toko Buku Bekas Kita

Posted on Leave a commentPosted in Cerpen, Inspiration

Oleh Ni’matut Tamimah *** Gerimis rintik-rintik menemani perjalanan kita berdua malam itu. Tujuan kita sama, menjelajah toko buku bekas di kota Taipei. Bukan untuk membeli buku tapi hanya sekedar membaca di dalamnya. Sejak satu tahun yang lalu kita berdua sepakat memiliki jadwal khusus di hari Sabtu malam untuk berkeliling Taipei dari toko buku satu ke […]

12565591_965552950179284_6570126758803941247_n

Jejak Langkah di Negeri Formosa

Posted on Leave a commentPosted in Cerpen, Inspiration

Pengalaman hidup untuk belajar dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi merupakan anugerah Allah SWT yang patut saya syukuri. Peluang untuk mendapatkan beasiswa pada program magister di universitas ternama di Taiwan akhirnya dapat saya raih. Kesempatan ini memacu semangat saya untuk terus mengembangkan diri baik dari sisi akademik maupun non akademik. Awal masa perkuliahan […]

Sumber: http://nurul-hidayah.org/

Menemukan Asa Dalam Duka

Posted on Leave a commentPosted in Cerpen, Inspiration

Banyak hal yang menjadi misteri. Bahkan meski kini kakiku berpijak di tanah yang sangat jauh dari tanah tempatku dilahirkan, masih ada banyak jawaban yang belum kutemukan. Rahasia kehidupan selalu menjadi menarik bagiku. Negeri Formosa dan Aku. Sebuah korelasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku berada disini demi sebuah tujuan mulia menuntut ilmu. Namun sebenarnya aku […]

Ikhlas

Posted on Leave a commentPosted in Cerpen

[Cerpen karya Sofi Bramasta]

Awal tahun 2010 masih menyisakan segumpal kecewa dihatiku. Siska sahabat yang ku kenal di negeri rantau lebih dari dua tahun dan sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri menghianatiku. Kak Siska bagiku bukan cuma sahabat, kakak sekaligus tempat curhat. Saking percayanya hingga suatu hari dia butuh uang, dengan senang hati aku pinjamkan passport yang merupakan nyawaku di negeri rantau sebagai jaminan pinjam uang di bank. Persahabatan yang di bina dengan kepercayaan dan ketulusan itu, musnah begitu saja dengan raibnya uangku HK$6000. Siska pergi entah kemana tak bisa ku cari jejaknya, dengan meninggalkan tagihan pinjaman yang harus kubayar.

Bulan Juli 2010

Liburan minggu itu kurasa begitu gelisah , aku sendiri tak tau entah mengapa? Sepulang liburan badanku terasa capek, kurebahkan tubuhku untuk melepas lelah. Baru saja mataku terpejam getaran handphone mengagetkanku, dengan malas setengah mengantuk ku gagapi dimana hpku berada. Ku lihat ada pesan singkat dari nomor Indonesia yang tak ku kenal “Dik Brama sudah bersamaku”. Glek, mataku terbelalak kaget “Siapa ini nyebut-nyebut nama Brama, ada apa denganmu anakku?” pikir panik. Segera ku telpon balik nomor yang tertera dipesan singkat tersebut. Dan….”gubrak”…ku banting handphone di atas kasur, darahku seolah terhenti, air bening keluar dari kedua sudut mataku. Aku terguguk pilu. Tahun 2009 aku mati-matian mendapatkan Brama dari keluarga papanya. Kini , ketika ku tinggal pergi, papanya malah mengambilnya tanpa seizinku “Huh..Begitu pengecutnya laki-laki itu!” gumamku.

Keesokan harinya adikku sms “Mbak Brama di ambil papanya.”

“Sudah tau ! Aku dulu bilang apa ? Masukkan ke pesantren saja. Papanya pasti nggak bisa nyari, tapi kamu cegah katanya masih kecil, kasihan… trus… gimana nasib keponakanmu sekarang ?” balasku.

“Aku nggak di rumah mbak , saat papanya ambil yang di rumah cuma mama” balas adikku.

“Ya sudahlah semua sudah terjadi , masak aku harus marah sama mama?” balasku kembali

“Kenapa sih mbak mau punya suami kayak gitu”

Aku terdiam baca sms adikku yang terakhir, secara tidak langsung dia telah merendahkanku. “Hmmm…kurang ajar adikku ini. Berani-beraninya menghina mbaknya.” Bisikku dalam hati. Emang istri adikku cantik, berwawasan, dan tubuhnya selalu di balut jilbab. Aku malu, apa yang dikatakan adikku yang usianya 7 tahun di bawahku itu benar, aku memang bodoh terlalu mudah percaya dengan rayuan laki-laki. Tapi gimana lagi! Semua sudah terjadi dan waktu nggak bisa di putar kembali.

Semenjak Brama bersama papanya, hatiku tak pernah tenang. Untung bocah itu ku bekali hp. Firasatku menunjukkan sinyal kegalauan, kayaknya masalah anakku dan papanya bakalan rumit. Makanya bocah 7 tahun kubekali hp untuk jaga diri, dan pulsanya aku transfer setiap bulannya. “Kalau ada apa-apa segera telpon ibu ya sayang” itu pesanku sama Brama.

Suatu hari telpon Brama mati, dengan kalut dan bingung ku telpon papanya segera.

“Kenapa hp Brama mati?!” tanyaku penuh emosi

“Begitukah kamu me-mindset anak ? apakah kamu nggak tau sekarang lagi booming video porno di internet?”

“ Emang dia bisa buka kayak gituan?”

“Emang kamu tau apa yang di lakukan anakmu? Brama tiap hari buka game. Hpnya sudah ku ganti play station”, suamiku berhenti sejenak dan melanjutkan dengan nada yang lebih tinggi “Bukankah dia minta PS tidak kau belikan? Ikut aku tinggal pilih mau PS 2 atau 3, mau makan sate atau daging tiap hari apa yang dia mau pasti aku turuti, nggak kayak di tempatmu kurus kucel” Jawaban itu membuatku limbung, tangis penyesalan menyesaki dadaku. Brama minta PS tak ku turuti bukan maksud aku pelit, tapi aku ingin dia fokus belajar dulu dan aku janji akan belikan kalau dia kelas 5 SD. Tapi mengapa semua jadi begini? Hpnya disita papanya.