Social

Bersatu dalam Perbedaan, Indonesia dan Taiwan

 

            Tidak seperti mahasiswa international di Jepang, Jerman, Norwegia, ataupun Prancis. Di negara-negara tersebut seluruh mahasiswa internasional diwajibkan mengikuti program bahasa intensif terlebih dahulu sebelum masa perkuliahan dimulai. Namun tidak demikian halnya dengan kami yang kebetulan melanjutkan study ke sebuah negara kecil bernama Taiwan. Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Taiwan cenderung ingin melakukan internasionalisasi dengan tujuan untuk meningkatkan kemampaun adaptasi masyarakat Taiwan dengan masyarakat dari negara-negara lain, serta ingin lebih mengakrabkan masyarakat Taiwan dengan bahasa Inggris. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan membuka program-program international di hampir seluruh universitas di Taiwan. Namun satu hal yang unik adalah, apabila dibandingkan dengan negara lain yang berbahasa ibu selain bahasa Inggris dan memiliki masyarakat yang mayoritas juga tidak berbahasa Inggris, untuk dapat melanjutkan pendidikan di Taiwan, mahasiswa internasional tidak harus menguasai bahasa China dengan baik, karena kemampuan bahasa yang dijadikan tolok ukur penerimaan mahasiswa adalah kemampuan berbahasa Inggris. Oleh karena itu, cukup banyak mahasiswa international di Taiwan yang memiliki kemampuan berbahasa China sangat minim atau bahkan nol besar alias tidak memiliki kemampuan berbahasa China sama sekali, seperti halnya saya dan beberapa kawan yang lain. Kursus bahasa China gratis sebenarnya disediakan oleh kampus kami. Hanya saja, kami merasa bahwa kursus tersebut kurang efektif, karena hanya berlangsung setiap seminggu sekali dengan durasi tiga jam. Kursus efektif setiap hari pun sebenarnya disediakan oleh kampus, hanya saja, biaya kursus tersebut cukup mahal. Bagi kami yang dapat dikatakan termasuk golongan ekonomi kelas menengah, biaya mengikuti kursus efektif cukup berat bagi kami, sedangkan beasiswa kami di sini pun tidak besar (kecuali bagi mahasiswa internasional yang mendapat beasiswa dari pemerintah). Jangankan untuk mengikuti kelas bahasa China efektif, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari pun dapat dikatakan sangat mepet. Selain biaya yang cukup mahal, beban kuliah yang cukup berat juga menjadi kendala kami dalam mempelajari bahasa China. Bahkan kelas seminggu sekali pun tidak jarang kami tinggalkan karena harus mengerjakan tugas kuliah yang menggunung. Berangkat dari keadaan tersebut berbagai kejadian lucu dan terkadang kurang mengenakkan terjadi pada kami. 

Seorang rekan yang baru saja belajar bahasa China pernah bercerita bahwa, untuk meningkatkan kemampuan berbahasa China, rekan saya ini selalu berusaha untuk menerapkan bahasa China ketika berkomunikasi dengan penduduk lokal. Namun ketika kawan saya ini berusaha memesan makanan dengan menggunakan bahasa China, maka teman saya ini hampir selalu mendapatkan menu yang keliru dengan apa yang sebenarnya diinginkan. Pertama kali saya datang ke Taiwan, saya masih ingat ketika saat itu saya ditemani kedua orang tua saya berkeliling kota menggunakan taksi. Supir taksi itu adalah seorang bapak tua yang sangat ramah, namun karena terlalu ramah, sepanjang perjalanan sang bapak terus bercerita panjang lebar menggunakan bahasa China yang di telinga saya sungguh-sungguh terdengar aneh (mungkin karena bahasa China bapak supir taksi ini tercampur dengan bahasa Taiwan), dan tiba-tiba bapak tersebut tertawa terbahak-bahak, dan kamipun ikut tertawa, bukan karena kami tahu apa yang mambuat bapak ini tertawa, melainakn kami tertawa melihat bapak ini tertawa. Akhirnya kami membalas obrolan bapak ini dengan menggunakan bahasa yang paling kami kuasai : bahasa Jawa, dan akhirnya kami kembali tertawa bersama. Namun kejadian kurang mengenakkan justru terjadi di asrama kami, karena manajer asrama kami sangat tidak paham bahasa Inggris, sehingga ketika kami ingin mengadukan kerusakan atau apapun dengan manajer dorm, bukan bantuan yang kami dapat, namun justru manajer dorm tersebut akan marah (tentu saja dengan bahasa China yang sama sekali tidak kami mengerti). 

Selain perbedaan bahasa, kejadian unik juga seringkali muncul karena perbedaan budaya. Mayoritas rekan dari Indonesia beragama Islam, Kristen, dan Katolik, sedangkan mayoritas masyarakat Taiwan cenderung tidak memiliki agama yang pasti, karena masyarakat Taiwan menyembah banyak dewa. Mayoritas mahasiswi muslim yang kuliah di Taiwan mengenakan jilbab. Seringkali rekan-rekan yang berjilbab ini dipandang dengan tatapan penuh keheranan karena mengenakan pakaian yang unik dan tertutup rapat. Tidak heran, masyarakat Taiwan cenderung tidak mengenal agama, dan dipastikan mayoritas tidak mengenal Islam, ditambah dengan cuaca Taiwan yang cenderung sangat panas, maka rekan saya tersebut memang terkesan seperti orang gila karena berpakaian sangat tertutup dalam cuaca yang sangat panas, sedangkan mayoritas masyarakat Taiwan berpakaian sangat minim.

Kejadian unik lain terjadi seputar pelaksanaan ibadah sholat. Seorang rekan saya yang berkebangsaan Turki pernah mendapat pesan singkat dari rekan sekamarnya (Taiwanese) yang meminta rekan saya tersebut merubah arah sholatnya. Kebetulan arah kiblat menghadap ke tempat tidur rekan sekamar teman saya tersebut, sehingga rekan sekamar kawan saya keberatan, karena seolah-olah kawan saya tersebut sedang mendoakan orang yang sudah meninggal. Rekan saya menyikapi dengan jawaban yang cukup unik pula. Dia berkata bahwa dia bersedia merubah arah sholat kalau rekan sekamarnya tersebut merubah kiblat dengan merubah letak Mekkah. 

Namun meskipun begitu banyak perbedaan yang terdapat di antara kami masyarakat Indonesia dengan masyarakat Taiwan sendiri, namun hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi kami untuk menjalin persahabatan. Masyatakat Taiwan relatif sangat terbuka (terutama bila dibandingkan dengan masyarakat China Daratan yang chauvinismenya masih sangat tinggi). Kami merasa keberadaan kami diterima dengan sangat baik, dan perbadaan yang terjadi dengan masyarakat lokal sangat dihargai. Rekan sekamar saya adalah Taiwanese. Namun ketika saya dan seorang teman sekamar lain yang juga beragama Islam mendirikan sholat, rekan saya tersebut sangat kooperatif, dan menghargai. Bahkan karena kamar kami cukup sempit, terkadang ketika saya mendirikan sholat, apabila rekan Taiwanese saya ini masih berada di luar kamar, dia tidak dapat masuk karena posisi sholat saya tepat di depan pintu kamar, dan rekan saya ini menunggu dengan sabar, bahkan meminta maaf karena saya harus mempercepat sholat saya. Ketika kami mengikuti karya wisata, seorang sahabat Taiwanese sering menemani saya berbelanja, dan membantu saya menawar barang ketika saya akan membeli sesuatu. Sungguh kebersamaan ini terasa sangat indah, meskipun begitu besar perbedaan di antara dua negara dan dua budaya, Indonesia dan Taiwan.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *