Pena Kehidupan

Posted on Posted in Inspiration, Opini

Oleh Mega Trishuta Pathiassana

 

Lima orang siswa kelas tiga sekolah dasar sedang belajar bersama. Hari ini, mereka akan belajar menggunakan pena untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah dari gurunya. Masing-masing mempersiapkan pena barunya dan saling memperlihatkannya satu sama lain.

Siswa pertama menunjukkan pena baru yang dibelikan oleh orang tuanya sepulang dari luar negeri. Pena itu bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, tidak sekedar untuk menulis. Mulai dari pemutar musik, kamera, lampu, hingga dapat digunakan untuk internet. Sungguh mengagumkan. Bisa ditebak bahwa harganya pasti sangat mahal.

Lalu, siswa kedua menunjukkan penanya yang tak kalah unik. Pena yang dimilikinya tak hanya dapat digunakan untuk menulis, akan tetapi juga untuk mendengarkan radio dan merekam suara apapun. Semuanya turut kagum dengan pena tersebut.

Begitupun pena-pena yang dimiliki oleh siswa ketiga dan keempat. Semuanya adalah buatan luar negeri dan memiliki fitur yang sangat menarik, serta membuat mereka saling mengagumi pena satu sama lain. Akan tetapi saat tiba giliran siswa kelima untuk menunjukan pena yang dimilikinya, ia hanya tersenyum sembari memperlihatkan sebuah pena yang biasa saja. Pena sederhana yang dapat dibeli oleh siapa saja di berbagai toko di sekitar mereka. Jangankan dilengkapi dengan fitur-fitur yang unik seperti pena teman-temannya, harganya pun tak seberapa. Semua temannya tampak meremehkannya.

Cemooh dan tawa mengejek tak luput ia peroleh dari keempat temannya itu. Sambil tersenyum, dengan besar hati ia pun berkata, “Ayahku bilang, aku hanya akan membutuhkan tinta dari pena ini untuk menulis dan belajar. Bukan yang lainnya. Agar aku tak terbebani oleh hal-hal yang sebenarnya tak perlu aku pikirkan. Aku tak perlu pusing jika nantinya pena ini tergores atau semacamnya. Dan aku bisa lebih fokus dalam belajar menulis dengan pena ini.”

***

Sahabat, kita bisa belajar dari kelima siswa tersebut. Tanpa kita sadari, seringkali kita tak ubahnya seperti mereka. Di dalam hidup, kita menginginkan berbagai macam hal yang terbaik bagi diri ini. Jabatan yang tinggi, gelar, dan capaian penghargaan terbaik yang pernah ada, ataupun harta yang tak akan habis sampai dengan tujuh turunan sekalipun. Padahal layaknya sebuah pena, yang kita butuhkan sebenarnya adalah tinta. Entah seperti apa kemasan luarnya, selama ia masih mendukung penggunanya memanfaatkan tinta yang ada di dalamnya, hal itu bukanlah sesuatu yang penting. Tinta itu sendiri ibarat kehidupan bagi kita, dan kemasannya hanyalah alat untuk menggenggam atau mengisi hidup tersebut. Namun, pada dasarnya seperti apapun bentuk kemasan itu, sedikitpun tak akan pernah mengubah kualitas kehidupan yang kita jalani.

Tak jarang, kita pun lupa merasakan kehidupan yang sebenarnya akibat terlalu fokus memperhatikan bagus atau tidaknya kemasan yang menyelubungi tinta kehidupan yang menggores kertas-kertas petualangan yang akan diarungi. Terkadang, kebanyakan dari kita malah menyibukan diri memandang sekeliling untuk mengetahui siapakah yang memiliki pena terbaik kala itu. Sayangnya, rumput tetangga selalu saja tampak lebih hijau. Ada saja hal yang membuat alpa bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Senantiasa berpikir bahwa orang-orang itu lebih di atas segalanya dibanding diri kita.

Inilah yang seringkali menjadi sumber masalah dan stres bagi kita. Isi kepala seakan ingin menyeruak semua kala di dalamnya ditumpuki pikiran ingin meraih A-Z, serta selalu merasa tidak pernah cukup dan puas atas apa yang telah diraih. Tidak salah memang. Setiap manusia pasti ingin hidupnya jauh lebih baik ketimbang masa lalunya. Tetapi, jalani saja semuanya dengan seimbang agar kita tak lupa untuk hidup dengan sederhana, peduli dan berempati pada sesama, serta tenang menghirup setiap partikel-partikel udara yang berhembus.

Tetaplah fokus pada tinta yang mengukir setiap deret diksi di lembaran-lemabaran kisah hidup yang sedang berlangsung agar kita tak gagal menikmati hidup yang telah dianugerahiNya. Menjadi manusia yang baik bukan berarti harus memiliki segalanya, karena segalanya memang tak akan mungkin kita miliki. Sanjung puji dari sekitar bukanlah sesuatu hal yang perlu untuk dipikirkan. Sebab, itu hanyalah sebuah konsekuensi dari hasil kesungguhan kita di masa lalu. Sadar atau tidak, semua itu hanyalah utopis.

Ciptakan hidupmu sendiri yang bertumpu pada sebuah destinasi yang hakiki. Bukan dengan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang ada jauh di atas sana. Meski sesekali, kita pun harus mendongak ke atas. Namun, bukan berarti hal ini membuat kita lupa untuk menunduk jauh ke bawah sembari membuka hati dan pikiran. Hidup kita hanyalah kita yang punya, namun bukan berarti kita harus egois dan tak berempati.

Tetaplah tersenyum, meski kesempatan baik belum memihak. Dan jangan pernah lepaskan jika ia sedang mengetuk bingkai hari di sudut hidup kita. Percayalah bahwa orang yang paling bahagia tidaklah memiliki segala hal yang terbaik dalam hidupnya. Mereka hanya berusaha membuat dan melakukan yang terbaik atas segalanya. Ubah narasi kita bukan karena aturan dan standar yang diberlakukan pada diri orang lain, namun tak ada salahnya jika kita kembali menyelami samudera yang ada di dalam diri kita. Bercerminlah. Tanyakan kembali, sejauh mana sebenarnya hidup ini bisa kau jalani dengan baik, tentunya tanpa mengganggu atau merugikan siapapun. Berhentilah mengejar kesempurnaan, sebab semua itu tak akan ada selama kaki masih menjejak di atas bumi. Sekali lagi, hal ini bukan tentang apa yang kita inginkan, tetapi tentang apa yang kita butuhkan. Sederhana saja, agar hidupmu lebih bermakna dan tak ada beban yang menyita porsi waktu terlampau besar.

 

Sumber: http://www.ayolebihbaik.com/pena-kehidupan/

Please follow and like us:
0

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *