Melubangi Cadas Besar

Posted on Posted in Inspiration, Opini

Oleh Mega Trishuta Pathiassana

 

Ah, menyebalkan!” seru seorang pemahat muda dengan setengah berteriak sembari melempar tatah ukir dari tangannya. Tergambar jelas kekesalan di wajahnya. Hingga akhirnya, ia menatap kosong seusai dengusan kesalnya yang terakhir. Sang pemahat tua, seniornya yang diam-diam memperhatikannya sejak tadi, kemudian mendekat. Diambilnya sebuah kursi kayu di sampingnya untuk duduk di hadapan Si Pemahat Muda itu.

“Tampaknya kau sedang kesal. Adakah yang ingin kau ceritakan tentangnya?” tanya Sang Senior tenang.

“Aku kesal pada diriku yang tak berbakat,” katanya sambil menatap ke bawah.

“Kenapa kau berpikir demikian?”

“Sebuah warta sumir sampai ke telingaku. Mereka menilaiku seperti itu. Dan tampaknya mereka benar. Karena, untuk membuat pahatan dan ukiran yang baik saja seringkali aku kesulitan dibuatnya. Sepertinya aku harus berpikir untuk menyudahi semua ini. Sebab, tidak mungkin bagi seorang yang tak berbakat sepertiku untuk bisa melanjutkannya.” kata Si Pemahat Muda dengan suara yang agak parau.

“Ikuti aku! Kita ke gua di dekat tempat kita mengambil kayu biasanya,” ajak Si Senior sembari beranjak dari tempatnya. Walau agak sedikit bingung, pemahat muda hanya menurut saja hingga sampailah mereka di sebuah gua yang dituju.

Berbekal dua buah lampu senter, mereka menyusuri aramnya gua. Tidak jauh dari mulut gua, mereka akhinya berhenti. Sepi. Hanya bunyi gemericik tetesan air saja yang terdengar di sana. Setelah menemukan tempat yang kira-kira nyaman untuk diduduki, mereka pun kembali berbincang.

“Kau dengar suara ricikan air itu?” Pemahat tua mulai membuka pembicaraan di antara mereka.

“Ya.”

“Coba kau lihat apa yang dibuatnya!”

Setelah berpikir dan melihat dengan seksama, pemuda itu pun menjawab, “Sebuah lubang yang dalam di batu cadas itu.”

“Masihkah kau akan berpikir akan kesulitan dan kemustahilan sekarang?”

***

Sulit dan mustahil, dua kata yang bisa jadi seringkali membelenggu diri kita. Baik sadar maupun tidak. Bahayanya, kedua hal itu justru tak jarang malah mematikan potensi yang ada di dalam diri. Menghentikan segala upaya yang tengah dilakukan. Dan bahtera yang kita tumpangi pun akhirnya berhenti sebelum tiba di dermaga tujuan.

Rasa jenuh dan pesimistis mulai merayap di dinding-dinding pikir. Membuntukan ide dan semangat memecahkan tantangan. Kreativitas mulai tertutup rapat, serta yang paling disayangkan adalah ternyata tak satupun karya yang akhirnya terselesaikan.

Tak sedikit dari kita seringkali membuat penghalang untuk maju dengan kata sulit dan mustahil. Kadang mereka hadir dari asumsi-asumsi tak berakar dalam diri kita, maupun akibat terlalu banyak mendengarkan beragam diksi dari sana-sini. Seolah diri lupa membenakan jalan yang diberikan Sang Pencipta bagi yang mau berusaha dan bersungguh-sungguh terhadapnya.

Saudaraku, jadilah seperti tetes-tetes air di dalam gua yang sederhana. Meskipun terdengar mustahil bisa melubangi batu cadas di gua itu, akan tetapi ia senantiasa konsisten menetes dan tetap pada pendiriannya untuk menetes di cadas itu. Hingga akhirnya ia dapat membuat lubang yang dalam di sana. Hal itulah yang kita sebut dengan persisten. Bahkan angin yang berhembus lembut di padang sahara pun turut melakukan hal yang sama pada bebatuan yang besar itu. Di sanalah bukti bahwa kesulitan dan kemustahilan dalam bentuk apapun hanya dapat dipecahkan oleh kesungguhan. Hal itu yang menjadi modal utama bagi diri kita yang terbatas, selalu konsisten dalam berusaha, persisten untuk menjadi lebih baik, serta resisten terhadap berbagai ujian dan masalah hingga kelak bermetamorfosa menjadi seorang pembelajar yang berdaya guna—istiqomah.

Jika pada akhirnya ada suara-suara yang meruapkan kata-kata penurun motivasi, gunakan saja itu sebagai kewaspadaan. Tetapi, bukan untuk dijadikan sebagai fokus pikiran kita. Karena yang seharusnya menjadi tujuan dan pusat perhatian kita adalah bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan skepstis yang ada di sekeliling kita atas usaha baik yang tengah dilakukan. Jadilah pelopor dan pelaku yang menginspirasi, serta mampu mengubah paradigma mayoritas.

Percayalah, tak ada yang tak mungkin bagi sebuah usaha dan kesungguhan yang berkesinambungan. Meskipun kecil, jika dilakukan dengan konsisten maka ia akan menghasilkan hasil yang begitu besar. Bahkan bisa jadi menghasilkan sesuatu yang tak kita sangka-sangka sebelumnya. Karena tugas kita hanyalah berusaha tanpa menyerah. Selanjutnya, biar Yang Maha Kuasa sajalah yang menentukan hasilnya. Fastaqim Kamaa Umirta—maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.

Sumber: http://www.ayolebihbaik.com/melubangi-cadas-besar/
Please follow and like us:
0

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *