InspirationResensi

Dunia Tanpa Manusia (The World Without Us)

Penulis: Alan Weisman

Oleh Mega Trishuta Pathiassana

rubrik

Sumber: www.apocalypsebooks.com

Apa yang akan terjadi dengan bumi ketika manusia pelan-pelan raib dari permukaannya? Pertanyaan itulah yang menjadi topik utama dari setiap lembar buku ini. Penjelasan mengenai keadaan bumi jauh sebelum manusia mengalami kemajuan pada berbagai aspek, yang mungkin tampak memajukan semesta pula, padahal justru dibalik itu kerusakan semakin memenuhi setiap sudut muka bumi di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit spesies tanaman maupun hewan yang seharusnya bisa hidup berdampingan dengan manusia, perlahan justru meninggalkan bumi dengan hanya meninggalkan jejak-jejak berupa fosil atau bahkan hanya cerita yang hanya dapat diwartakan kepada generasi yang akan datang tanpa dapat dibayangkan bagaimana wujudnya sebenarnya.

Sebut saja, Bialowieza Puszcza, hutan purba di Polandia yang sedikit demi sedikit mulai terlupakan dari ingatan banyak manusia. Akan tetapi, beberapa orang yang mungkin pernah dibesarkan di daerah beriklim sedang, seperti sebagian besar Amerika Utara, Jepang, Korea, Rusia, beberapa bekas Republik Soviet, sebagian Cina, Turki, dan Eropa Timur, serta Barat—termasuk Pulau-pula Inggris—masih dapat mengingat aroma firdaus yang dihidangkan olehnya dalam beberapa masa. Hutan purba yang dahulu pernah berkabut dan ditumbuhi oleh beragam pepohonan semacam Ash, Linden, atau Oak yang tingginya bisa mencapai 50 meter, pernah bertengger di permukaan bumi ini. Kanopi mereka bernaung di segala penjuru dan menjadi tempat bagi burung pelatuk besar bertotol menyimpan buah di celah-celah kulit pepohonan rindang tersebut. Pesona itu pula yang belakangan turut dirindukan oleh kehidupan, termasuk manusia itu sendiri.

Atau bayangkan ketika setiap sudut-sudut kota besar yang saat ini menjadi tempat berpijak berjuta-juta manusia justru ditinggalkan oleh manusia itu sendiri? Bisa jadi, beberapa tahun kemudian, kota tersebut akan dipenuhi oleh Ailanthus yang mampu menancapkan akarnya hingga mengoyak setiap aspal dan terowongan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia. Bangunan-bangunan kokoh yang saat ini kian menjulang, perlahan akan runtuh berserakan dan dipenuhi oleh hijaunya lumut-lumut basah yang melapukan setiap bebatuan yang membentuknya di masa lalu. Menggantikan karbon-karbon emisi yang membentuk rumah kaca menjadi oksigen yang menyatu dan membentuk senyawa pelindung bumi di permukaan atmosfer.

Akankah Polimer, CFC, dan PCB yang memenuhi udara dan pori-pori tanah di permukaan bumi dapat lenyap dari bumi tanpa sisa? Seberapa lama pula kerusakan yang dihasilkan oleh manusia dapat menghilang secara paripurna dari muka bumi ketika jejak manusia tak ada lagi? Selain itu, apakah untuk melenyapkan manusia dari muka bumi, maka peperangan harus dilakukan? Seberapa besar pengaruh peperangan terhadap kelestarian ekosistem? Lalu, bagaimana dengan keadaan samudera yang menyajikan misteri untuk dijelajahi? Berapa banyak hiu yang masih bertahan setelah mereka dianggap sebagai pembunuh atas sekitar 15 orang dan berganti dengan 100 juta hiu yang mati? Pertanyaan-pertanyaan itu pula yang akhirnya turut mengawali pembahasan mengenai kehidupan tanpa manusia lainnya di masa yang akan datang.

Buku ini menyajikan ulasan dan penyelesaian terhadap permasalahan kerusakan lingkungan yang diproduksi manusia selama beberapa dekade secara radikal tetapi persuasif, yang tidak bergantung atas lenyapnya umat manusia. Dilengkapi dengan penjelasan naratif yang deskriptif, mampu mengajak para pembacanya untuk ikut serta membayangkan setiap hal yang disajikan olehnya. Bahkan setiap diksinya bukan hanya berisi hal-hal yang mengawang-awang karena pengandaian yang dihasilkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun hasil observasi dan kajian mendalam juga turut menyempurnakan isi dari buku ini.

Please follow and like us:
error0

Comments

comments

One thought on “Dunia Tanpa Manusia (The World Without Us)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *